Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Terlalu Banyak Tapi

Sayangku, di manakah kita sekarang? sedang dalam fase apakah kita sekarang? samakah yang ku rasa dengan yang kau rasa? penting kiranya kita menjawab semua pertanyaan itu sebelum lebih jauh membayangkan akan seperti apa kita berdua kedepan. Utamanya agar kita bertemu dalam imajinasi masa depan itu. S ayangnya Aku dan Kamu hampir tidak pernah mengajukan pertanyaan itu dalam setiap pertemuan kita. entah karena kebingungan dan tidak terbiasa mengutarakan isi hati atau karena kita terlalu sibuk mencari candaan untuk dilontarkan agar pertemuan itu dipenuhi tawa. Padahal sebelum pertemuan berlangsung, Aku sudah mengingat-ingat apa saja dari dirimu yang tidak ku suka dan Aku ingin Kamu menguranginya.  Saat kita bertemu semua ingatan itu tak bisa terucap, Aku beralih fokus ingin terus membuatmu merasa nyaman, tenang, dan tidak khawatir dengan hidup yang sudah kadung mengkhawatirkan ini. Aku ingin Kamu tertawa dengan lepas dari kelelahanmu selama hari ini. Kita seperti ingin menja...

Saya Butuh Menangis

Masih membekas dalam ingatan, Bapak pernah berkata "kamu haru mandiri, ....". Saya mengartikan perkataan Bapak sebagai sebuah motto hidup yang memberi penjelasan dalam menjalani hidup jangan bergantung pada orang lain, kerjakan dan selesaikanlah segala urusanmu sendiri, jangan mengeluh pada orang lain, dsb.  Samar-samar dalam ingatan, entah Bapak atau Mama pernah berujar "kamu adalah anak pertama, harus bersiap memikul tanggung jawab". Saya mengartikan ujaran itu sebagai sebuah proyeksi masa depan, kelak saya harus menggantikan peran Bapak untuk membesarkan kedua adik, perlahan seiring usia bertambah saya punya peran meringankan beban Bapak sebagai kepala keluarga, dsb. Sangat membentuk watak saya hingga hari ini, doktrin maskulinitas dan patriarki yang masuk kedalam gendang telinga melalui rambatan suara omongan orang-orang seekitar lalu meresap dalam batok kepala. Saya menerimanya mentah-mentah sebagai sebuah sifat niscaya dalam diri bahwa seorang laki-laki...

Fatwa, Rivalitas Kita Sudah Berakhir

Saat menuliskan ini saya tidak tahu harus menggunakan kalimat seperti apa, perasaan saya campur aduk. Di satu sisi senang karena Fatwa Faturachmat, salah seorang karib saya baru saja sarjana. Di sisi lain saya sedih karena mulai saat ini juga karib saya itu tidak lagi bisa mewarnai hari-hari saya di kampus untuk berdiskusi, berbagi kisah percintaan, dan   segala macam jenis perbincangan intens lainnya. Perasaan ini persis seperti ketika saya pergi memesan Coto Makassar tanpa hati tapi pelayan datang menyajikan Coto dengan hati di dalamnya, meski tidak suka memakan hati karena cita rasa pahit pekatnya itu, mau tidak mau saya harus memakannya ketimbang dibuang, daripada mubazir dan saya bayar pula. Ditambah lagi, dengan sarjananya Fatwa, daftar karib di kampus yang bisa saya ajak ngobrol tanpa perlu terlebih dahulu menjelaskan siapa diri saya sudah berkurang drastis, setelah Ilham Nasir yang terlebih dahulu sarjana beberapa bulan lalu. Saya membayangkan hari-hari kedepan di kam...

Catatan Facebook 2019: Perpisahan Daniele De Rossi

AS Roma yang loyal sudah berakhir Malam ini akan menjadi pertandingan terakhir Daniele De Rossi bersama AS Roma, klub bola tempatnya mengabdikan diri. Mirip seperti pendahulunya, Francesco Totti. Keduanya berakhir dengan sebab yang sama pula, manajemen yang tidak ingin memperpanjang kontrak. Daniele adalah pewaris sah kapten klub sekaligus simbol kesetiaan setelah Totti, namun belum lama mengemban tahta tersebut, Daniele sudah kadung diputus kontrak oleh klub. Meski kerap did era cedera serius berkepanjangan, kontribusi besarnya musim ini masih terasa saat kembali bermain. Kehadirannya mengembalikan semangat tim yang sempat memudar dan membuat lini tengah permainan terlihat lebih kokoh. Saat klub ini diterpa kekalahan telak 7-1 dan kekalahan besar lainnya di pentas eropa maupun domestik, saya tidak bergeming untuk tetap menyatakan diri di muka umum bahwa saya adalah seorang romanisti. Karena memang klub ini medioker, ekspektasi yang jauh dari kualitas saat menghadapi para raksa...

Catatan Facebook 2019: Eksistensialisme di Berita The Guardian

Kabar ini mengingatkan saya pada pemikiran eksistensialisme yang pernah saya baca, meskipun sebenarnya saya sudah tidak ingin lagi membicarakan pemikiran tersebut. Namun berita ini terlalu bagus untuk sekadar dibaca dan dibiarkan berlalu seiring ingatan yang kian memudar, berita bagus seperti ini mesti diberikan catatan atasnya agar terawat dalam ingatan lebih lama. Siapa tahu saja di masa depan saya punya anak yang akan menanyakan hal serupa. Kita memang tidak pernah meminta untuk dilahirkan, kita tidak pernah bersepakat maupun mengerti terhadap apa itu kehidupan sebelum dilahirkan. Dalam eksistensialisme, ada yang menyebut kelahiran sebagai keterlemparan. Kondisi dimana tidak ada kehendak pada manusia terhadap keberadaannya. Maka setelah berada di dunia, yang selanjutnya dilakukan adalah mengada untuk mengembalikan dan mengontrol kehendak pada diri. Melalui mengada inilah manusia akan sadar terhdap eksistensinya beserta konsekuensinya. Oleh karena itu eksistensialisme menola...

Catatan Facebook 2018: Solusi Bukan Solusi

Permasalahan kemacetan tidak bisa sepenuhnya kita bebankan kepada pemilik kendaraan pribadi. Tidak adanya aturan terkait jumlah batas kepemilikan kendaraan pribadi turut berkontribusi, ketimbang membuat aturan ini, pemerintah lebih suka kita membayar pajak lebih dari diberlakukannya pajak progresif. Aturan jumlah batas penjualan kendaraan juga tidak ada, pemerintah lebih suka membuat aturan mobil murah, dan ramah lingkungan. Pada kondisi masyarakat yang mulai sadar akan berat nya membeli barang diluar kebutuhan sehari-hari tapi tidak masalah mahal asal bisa dicicil, dan kesadaran akan kerusakan lingkungan. Maka aturan ini hanya seperti memberikan slogan iklan baru untuk barang dagangan. Para pejabat yang berinvestasi pada perusahaan penyedia kendaraan pribadi lebih-lebih, coba saja cek di berita, siapa pejabat yang menginginkan pembelian kendaraan mewah harus terlebih dahulu diimpor kedalam negeri oleh perusahaan penjual kendaraan bermotor, lalu baru boleh dibeli di perusahaan ...

Catatan Facebook 2018: Muak pada Kecepatan

Kecepatan, kata yang mungkin terus terngiang dalam kepala mahasiswa hari ini. Cepat sarjana, cepat kumpul tugas, cepat kkn, dan segala kecepatan lainnya. Untuk apa semua kecepatan itu? Agar cepat dapat kerja, cepat menikah, atau cepat lanjut S2. Lagi-lagi kecepatan. Perilaku ini bukan sesuatu yang tiba-tiba, melainkan perilaku yang dikonstruksi secara struktural melalui peraturan akademik, peraturan kemahasiswaan, standar mutu akademik, dan standar penerimaan pelamar kerja, s erta yang paling memprihatinkan praktik dosen dalam mendidik mahasiswa. Beberapa kali saya menemukan seorang dosen yang memberikan arahan kepada mahasiswanya untuk melakukan ini dan itu agar mahasiswanya bisa segera sarjana, beberapa mahasiswa yang enggan menerima arahan itu mendapatkan sentimen. Praktik seperti ini sebenarnya adalah hal yang wajar, karena dosen memiliki struktur di atasnya yang memang mengkonstruk pola pikir serba cepat itu, misalnya saja standar akreditasi atau mutu akademik sebuah fakul...

Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa

Apa yang ingin dicapai dari bergabung di lembaga kemahasiswaan? Sejak saya menjadi mahasiswa, terhitung sudah dua lembaga kemahasiswaan yang saya ikuti secara formal (menjadi kader). Mengikuti tahapan pengaderan hingga melalui tahapan organisasi yang ada di dalamnya dengan niat yang tak penuh, niat yang tersisa saya berikan kepada memperhatikan diri sendiri. Setelah saya mengingat semua tahapan dalam lembaga kemahasiswaan yang sudah dilalui, terbersit sebuah pertanyaan, apa yang saya capai untuk lembaga maupun diri sendiri dari semua tahapan yang sudah saya lalui?. Untuk lembaga, saya berpikir sudah memberikan daya ide, tenaga, dan waktu luang untuk membantu lembaga tersebut tetap aktif dalam menjalankan kerja-kerjanya agar mencapai cita-cita yang diidamkan. Saya merasa ini sudah cukup saya berikan kepada lembaga, mengingat alasan saya melakukan hal tersebut hanya karena rasa tanggung jawab sebagai kader. Sedang untuk diri sendiri, saya teringat dua senior yang pernah menjel...

Catatan Facebook 2017: Saya, Totti, dan Kebahagiaan

Pertandingan malam tadi yang mempertemukan Roma dan Juventus, merupakan salah satu pertandingan sepakbola paling menyedihkan yang pernah saya tonton, meskipun kesebelasan yang saya dukung memenangi pertandingan. Namun fakta bahwa pemain idola saya sudah tidak bisa lagi bermain sesering dulu dan konsisten memberikan permainan menghibur dari kakinya membuat saya sangat sedih, meski Totti sempat memasuki lapangan pertandingan diakhir waktu untuk mengganti Salah, namun tidak sekalipun sang pangeran menyentuh bola dengan kakinya seingat saya,maka wajar saja Totti keluar dari lapangan dengan ekspresi kekecewaan. memang tidak ada yang namanya kejayaan abadi, namun harus melihat berakhirnya masa kejayaan sang pangeran adalah sebuah mimpi buruk yang menjadi nyata, meskipun diawal saya sudah tahu akan tiba masa ini, tapi tidak serta merta membuat saya mampu menerima realita habisnya masa kejayaan sang pangeran. Dari peristiwa ini saya mencoba kembali memahami apa arti Roma dan sepakbola bagi ...

Catatan Facebook 2016: Kicauan Burung dalam Sangkar

Saat sore hari sepulang kuliah di kampus, saya bersama seorang teman bergegas menuju warung makan yang tidak jauh dari kampus, sebelum sampai di rumah makan, langit terlihat gelap sebagai pertanda akan turunnya hujan, saat sampai di warung makan, hujan masih belum turun juga, sembari menikmati makanan yang saya pesan, saya terus berharap semoga hujan tidak segera turun, karena selesai menghabiskan makanan, saya dan teman harus mendatangi tempat lain, dan hujan dapat menghambat rencana kami tadi. makanan yang saya santap habis, hujan masih belum turun, syukurlah. agar makanan yang sudah masuk dalam perut saya dapat tercerna dengan baik, saya memutuskan untuk tidak beranjak selama lima menit, karena untuk bergerak sesudah mengalami kekeyangan itu merepotkan, tiba-tiba hujan turun dengan deras, terhambatlah saya untuk pergi ketujuan berikutnya. mau tak mau saya harus tetap berada di warung makan ini sembari menunggu hujan reda, saya nikmati rokok yang ada ditangan kiri sambil melihat k...

Catatan Facebook 2016: Pemetikan Bunga

saya sangat suka memandangi bunga, hampir setiap ada waktu luang saya selalu menyempatkan untuk berjalan-jalan ke taman maupun ke ruang terbuka publik hanya untuk sekedar memandangi bunga yang tumbuh di tempat itu. memandangi bunga memberikan penglihatan saya sebuah kenikmatan, rasanya nikmat saja setelah seharian beraktifitas yang kemarin dan besok akan sama saja. hingga pada suatu hari saya pergi ke taman yang sudah lama tak saya kunjungi, saat itulah saya melihat sebuah bunga yang berwarna sangat cerah padahal, saat itu sinar matahari tidak sedang menyinarinya, bunga itu seolah mengeluarkan cahaya. saat memandangi bunga ini saya merasa senang, ceria, dan bergairah untuk terus hidup. jika hedonisme diartikan sebagai prilaku untuk mencari kenikmatan sebanyak-banyaknya lalu menghindarkan diri dari kesengsaraan sebisa mungkin maka, pada saat melihat bunga yang satu inilah saya menjadi seorang hedonis karena, saya tidak ingin beranjak dari taman saat memandanginya, saya ingin terus b...

Catatan Facebook 2016: Intelektual Kampus

Intelektual kampus, kata ini sering dilekatkan kepada mahasiswa yang memiliki pengetahuan di bidang filsafat, sosial, ekonomi, politik, psikologi, sastra, serta tentu saja juga ahli di jurusan kuliahnya. Begitu banyak bidang ilmu yang mereka dalami membuat mereka terlihat seperti kritikus saat berbincang di kantin atau di koridor, pembicaraan tak lepas dari persoalan bangsa dan negara yang menyangkut kemaslahatan umat, memprotes kebijakan yang tak membawa kesejahtraan rakyat . Di pundak intelektual kampus inilah katanya masa depan negara ini dipikul. Saat awal memasuki kampus saya berkeinginan menjadi intelektual kampus seperti mereka, saya mulai meniru buku bacaan mereka, minum kopi di kantin sambil membecirakan isu seperti mereka, menghadiri diskusi seperti mereka. cara hidup ini membuat saya merasa semakin mengenal diri sendiri, membuat saya merasa akhirnya dapat berbuat sesuatu, rasa bangga terhadap diri sendiripun muncul. tapi ada satu hal yang saya lupa, saya lupa mendala...