Fatwa, Rivalitas Kita Sudah Berakhir


Saat menuliskan ini saya tidak tahu harus menggunakan kalimat seperti apa, perasaan saya campur aduk. Di satu sisi senang karena Fatwa Faturachmat, salah seorang karib saya baru saja sarjana. Di sisi lain saya sedih karena mulai saat ini juga karib saya itu tidak lagi bisa mewarnai hari-hari saya di kampus untuk berdiskusi, berbagi kisah percintaan, dan  segala macam jenis perbincangan intens lainnya. Perasaan ini persis seperti ketika saya pergi memesan Coto Makassar tanpa hati tapi pelayan datang menyajikan Coto dengan hati di dalamnya, meski tidak suka memakan hati karena cita rasa pahit pekatnya itu, mau tidak mau saya harus memakannya ketimbang dibuang, daripada mubazir dan saya bayar pula.

Ditambah lagi, dengan sarjananya Fatwa, daftar karib di kampus yang bisa saya ajak ngobrol tanpa perlu terlebih dahulu menjelaskan siapa diri saya sudah berkurang drastis, setelah Ilham Nasir yang terlebih dahulu sarjana beberapa bulan lalu. Saya membayangkan hari-hari kedepan di kampus akan terasa sangat sepi dan dingin bagi saya. Sungguh, saya sangat ingin menuliskan surat yang penuh umpatan kepadamu, Fatwa. Begitu teganya kamu meninggalkan saya di kampus yang tandus dan kering kerontang ini, dipenuhi suara-suara ratapan mahasiswa lemah dari berbagai sisi, kantin yang dipenuhi gosip-gosip murahan, dan celotehan dangkal yang menggema dalam ruang kelas. Kini saya harus mengalami itu semua sendirian, tidak ada lagi obat penawar berupa obrolan hangat kita di kala sore datang di kantin Kak Suri. Jika satu tahun kedepan saya berakhir menjadi mahasiswa pesakitan itu adalah salahmu, Fatwa.

Sejak mulai akrab dengan Fatwa, saya sadar Fatwa bukanlah sekadar teman biasa, dia punya kemampuan yang mumpuni untuk menjadi rival saya dalam segi belajar di organisasi. Sejak saat itu saya memutuskan Fatwa adalah kawan sekligus rival saya di Fakultas Kehutanan. Hampir di segala sisi dia mampu mengimbangi saya, mulai dari ketampanan, kecerdasan, dan kharisma, serta daya tangkap yang cepat. Jika Fatwa punya kelebihan dari saya saat itu paling hanya dari segi kelucuan, maklum, Fatwa punya selera humor dengan spektrum lebih luas dibandingkan saya. Hal inilah yang menjadikan saya kalah telak dari Fatwa dalam kemampuan bersosialisasi.

Sulit bagi saya untuk tidak menyombongkan diri di hadapan Fatwa, sikap yang wajar bukan, apakah ada orang yang rela bertekuk lutut dengan suka rela di hadapan rivalnya. Oleh karena itu saya berani dengan lantang mengatakan bahwa kualitas intelektual saya berada di atas Fatwa, setidaknya kualitas kami berjarak 2 tingkat. Ini bukan sekadar kesombongan belaka, jika ada yang mau membuktikannya dengan memperbandingkan berapa banyak buku yang telah dibaca, pasti saya akan menang telak. Fakta lainnya yang mendukung pengklaiman saya ini adalah bahwa saya terlebih dahulu menjabat sebagai Ketua Umum dibandingkan Fatwa. Fatwa bisa menjadi Ketua Umum menggantikan saya karena terlebih dahulu saya dengan sukarela merestui pencalonannya. Belum lagi jika saya menyinggung jabatan dan peran di kegiatan organisasi yang pernah ditawarkan ke saya lalu saya tolak karena standar kompetensi saya yang sudah tidak selevel dengan kegiatan seperti itu, tawaran itu lalu saya serahkan ke Fatwa untuk menjadi ajang latihan baginya agar bisa naik ke kelas yang sejajar dengan saya.

Tapi apa gunanya semua klaim itu, hari ini saya sudah kalah telak, Fatwa sarjana lebih dulu. Dalam bidang akademik, Fatwa dan saya bagaikan profesor dan mahasiswa semester satu. Saya kalah telak dalam bidang ini, saat Fatwa sudah menyelesaikan mata kuliah spasial, saya masih mengulang mata kuliah pengantar ilmu kehutanan. Kini status kita sudah berbeda, perbedaan itu menempatkan kita dalam strata sosial yang berbeda. Kamu kini sebagai seorang sarjanawan yang akan menghadapi dunia nyata yang jauh lebih keras dan susah ketimbang dunia mahasiswa yang saya diami ini yang dipenuhi khayalan-khayalan akut dan keluhan-keluhan cengeng.

Maka kita sudah tidak bisa diperbandingkan lagi, saya pun tidak bisa lagi menganggapmu sebagai rival, kelas kita sudah jauh berbeda. Dengan penuh kebesaran hati, saya mengaku kalah dalam rivalitas ini. Kamu seperti orang yang berlari jauh meninggalkan saya dalam perlombaan lari jarak jauh, sementara saya masih saja terus membayangkan kamu masih berlari kecil di belakang saya. Padahal sejak perlombaan dimulai, kamu memang sudah berlari jauh di depan saya. Sehingga ketika saya melihat bayangan dirimu berlari di belakang saya ternyata itu adalah lari untuk putaran keduamu sementara saya baru mau menyelesaikan putaran pertama.

Saat ini tidak ada yang bisa saya lakukan selain mengenang setiap perjumpaan kita, mengingat kembali betapa bertolak belakangnya prinsip-prinsip yang kita pegang. Kamu selalu bersedia dengan senang hati memoderasi dan memberi kesempatan bagi orang-orang yang ingin sekali saya singkirkan karena sangat tidak kompeten. Kamu selalu bisa meyakinkan orang-orang agar ikut dengan rencanamu melalui obrolan yang diselipi gelak tawa dan nuansa pertemanan, sementara saya meyakinkan orang-orang dengan menghabisi semua alasan tidak rasionalnya sehingga tidak ada lagi kesempatan baginya selain mengikut. Kamu sangat suka mengerjakan pekerjaan secara sekaligus dalam waktu singkat dibandingkan saya yang suka bekerja dengan perencanaan dan tahapan yang matang.

Ingatkah kamu betapa berbedanya juga selera kita, kamu sangat suka dengan kriteria pacar yang sedikit kekanak-kanakan, ceria, dan berusia lebih muda atau sebaya. sedangkan saya suka kriteria pacar yang berumur lebih tua dan cukup dewasa untuk sekadar memahami  bahwa hidup ini penuh penderitaan sehingga tidak ada waktu untuk mengeluh. Apalagi jika menyangkut gaya berpakaian, selera necismu sangat bertolak belakang dengan selera saya yang nyentrik asal-asalan. Begitupun dengan selera genre drama Korea, kamu suka cerita surealis nan romantik. Di lain sisi saya suka genre realis dan melankolis. Entah berapa banyak lagi perbedaan kita yang bisa saya tuliskan setidaknya sepanjang 2000 kata itu.

Melalaui serangkaian perbedaan itu, saya jadi bisa lebih mengenal diri sendiri, saya jadi tahu sampai mana batas-batas yang bisa saya tolerir dan tidak. Fatwa berperan banyak dalam upaya saya mendifinisikan diri. Melalui kehadirannya sebagai pembeda saya jadi bisa mengetahui batas antara yang diri saya dan yang bukan. Sependek ingatan saya, Fatwa dan saya hanya punya satu kesamaan. Kesamaan itulah yang membuat rivalitas kami terasa tetap hangat ditengah perseturuan abadi.

Kesamaan itu tak lain adalah kami sangat suka menghabiskan waktu dengan sekadar mengobrol kesana kemari. Saya tidak punya cukup banyak teman mengobrol seasik Fatwa. Saat mengobrol saya tidak suka membicarakan hal-hal yang bersifat personal, tapi entah mengapa saat bersama Fatwa saya dengan senang hati membagi kisah asmara, pertengkaran keluarga, dan momem memalukan saat remaja, serta aib-aib masa lalu yang seharusnya dikubur dalam-dalam. Dengan senang hati pula saya rela mendengarkan kisah-kisah personal Fatwa yang terkadang terasa, iuuuuh, menjijikan karena terkesan lebay. Namun tetap saja kami selalu bertemu untuk menghabiskan waktu bersama di tempat andalan kami yang menyediakan WiFi gratis tanpa mengenal jam tutup.

Jika tulisan ini mulai terasa semakin lebay, Fatwa, kamu pasti tahu bahwa saya orang yang cukup sentimental untuk sekadar menyikapi perpisahan singkat. Selamat sarjana, parner. Rivalitas kita sudah berakhir, kini sudah waktunya kamu menghadapi pertarungan di dunia nyata yang jauh lebih kejam itu. Jika waktu sarjana saya nanti tiba,  saya akan datang padamu, lalu terimalah saya sebagai muridmu yang belum tahu apa-apa mengenai dunia nyata yang tak lama lagi akan kamu menangkan.

Salam hangat, dari mantan teman seperguruanmu, Pettarani Sastranegara.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Menonton Tigertail

Setelah menonton film Mr. Nobody

Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa