Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa

Apa yang ingin dicapai dari bergabung di lembaga kemahasiswaan?
Sejak saya menjadi mahasiswa, terhitung sudah dua lembaga kemahasiswaan yang saya ikuti secara formal (menjadi kader). Mengikuti tahapan pengaderan hingga melalui tahapan organisasi yang ada di dalamnya dengan niat yang tak penuh, niat yang tersisa saya berikan kepada memperhatikan diri sendiri.
Setelah saya mengingat semua tahapan dalam lembaga kemahasiswaan yang sudah dilalui, terbersit sebuah pertanyaan, apa yang saya capai untuk lembaga maupun diri sendiri dari semua tahapan yang sudah saya lalui?.
Untuk lembaga, saya berpikir sudah memberikan daya ide, tenaga, dan waktu luang untuk membantu lembaga tersebut tetap aktif dalam menjalankan kerja-kerjanya agar mencapai cita-cita yang diidamkan. Saya merasa ini sudah cukup saya berikan kepada lembaga, mengingat alasan saya melakukan hal tersebut hanya karena rasa tanggung jawab sebagai kader.
Sedang untuk diri sendiri, saya teringat dua senior yang pernah menjelaskan jawaban dari pertanyaan diatas saat sedang mengobrol terkait metode apa yang tepat untuk meningkatkan partisipasi kader hari ini. 
Senior yang bernama Irlan menjelaskan bahwa yang perlu dicapai seorang kader saat berproses di lembaga kemahasiswaan adalah melatih nalar agar mampu berpikir dengan benar, saya berupaya menalar maksud dari penjelasan ini. Dalam hemat saya, yang dimaksud melatih nalar adalah menjalankan manajemen organisasi yaitu merencanakan hingga mengevaluasi suatu program dengan sebaik mungkin, karena semua proses itu perlu nalar yang sehat dan benar agar suatu program bisa berjalan efektif dan efisien.

Senior lain yang bernama ILham Muhammad memberikan jawaban saat saya sedang mengeluh soal kelelahan akibat menjalankan program kerja lembaga dengan sumber daya yang minim. Dia mengatakan lembaga melatih kita untuk memiliki sikap tenggang rasa dalam kehidupan sosial. Secara tersirat Ilham mencoba menjelaskan bagaimana menyikapi kekecewaan yang didapatkan dari cara berorganisasi yang tidak beres oleh para kader lembaga, mulai dari rasa kecewa karena ada kader yang tidak aktif berorganisasi tapi senang memakai citra lembaga di kehidupan sosial dan pribadi, ada juga karena kader yang tidak berpartisipasi aktif dalam menjalankan proses pengaderan tapi suka tampil sebagai senior yang superior dihadapan para junior.
Menurut ilham, segala kondisi itu harus kita tanggapi dengan besar hati memaklumi segala jenis tingkah laku para kader tersebut, karena mereka bersikap sebagaimana kapasitas pengetahuannya. Kondisi ini yang akan mengajarkan apa itu yang disebut ikhlas. Saya sangat suka dengan jawaban dari ilham bukan karena jawabannya membuat saya kembali bersemangat dalam berorganisasi di lembaga kemahasiswaan. Tapi karena sikap tenggang rasa ini menghindarkan diri dari konflik yang tidak perlu, serta menghilangkan rasa puas diri.
Kini saya sudah jarang terlibat di lembaga kemahasiswaan karena waktu luang yang semakin sedikit sejalan dengan semakin sedikit batas waktu menempuh studi di kampus.
Ditulis saat sedang menunggu dosen yang terlambat masuk mengajar di kelas. 
Makassar, 8 Oktober 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Menonton Tigertail

Setelah menonton film Mr. Nobody