Catatan Facebook 2017: Saya, Totti, dan Kebahagiaan
Pertandingan malam tadi yang mempertemukan Roma dan Juventus, merupakan salah satu pertandingan sepakbola paling menyedihkan yang pernah saya tonton, meskipun kesebelasan yang saya dukung memenangi pertandingan. Namun fakta bahwa pemain idola saya sudah tidak bisa lagi bermain sesering dulu dan konsisten memberikan permainan menghibur dari kakinya membuat saya sangat sedih, meski Totti sempat memasuki lapangan pertandingan diakhir waktu untuk mengganti Salah, namun tidak sekalipun sang pangeran menyentuh bola dengan kakinya seingat saya,maka wajar saja Totti keluar dari lapangan dengan ekspresi kekecewaan. memang tidak ada yang namanya kejayaan abadi, namun harus melihat berakhirnya masa kejayaan sang pangeran adalah sebuah mimpi buruk yang menjadi nyata, meskipun diawal saya sudah tahu akan tiba masa ini, tapi tidak serta merta membuat saya mampu menerima realita habisnya masa kejayaan sang pangeran.
Dari peristiwa ini saya mencoba kembali memahami apa arti Roma dan sepakbola bagi Totti, saya yakin bagi Totti, Roma adalah rumahnya, rumah yang selalu memberikannya ruang untuk berkreasi dalam mengaktualkan potensi yang dimiliki dalam dirinya, tempat yang selalu bersedia menerimanya dalam keadaan apapun dan bermain sepakbola adalah potensi paling besar yang dimiliki Totti dalam dirinya, maka bermain sepakbola merupakan kebahagian terbesar bagi Totti. dari dua penjelasan diatas inilah bagi saya yang akan membuat Totti memiliki kesetian tanpa batas bagi klub dan kota kelahiranya ini.
Totti tahu bahwa kebahagian terbesar bagi dirinya adalah bermain sepakbola, namun diluar dari dirinya masih ada kebahagian yang lebih besar yang bisa dirasakan selain dari dirinya sendiri, yaitu membawa klub kota kelahirannya meraih prestasi sebanyak-banyaknya, karena kota dan klub inilah yang menyediakan ruang bagi Totti untuk mendapatkan kebahagiannya, maka sebagai bentuk terimakasih paling ril yang bisa dilakukan Totti adalah turut membahagiakan orang-orang yang berada dalam ruang itu, melalui sepakbola. meski sepanjang karirnya Totti tidak bisa memberikan banyak gelar setiap tahunnya bagi Roma, namun bagi saya, Totti sudah memberikan gelar paling besar kepada para pendukung roma, yaitu kesetian untuk terus berusaha membahagiakan pendukung Roma setiap musimnya, bahkan diusia yang seharusnya sudah membuat Totti pensiun dari bermain sepakbola terus dia hiraukan karena Totti merasa belum cukup membahagiakan rumah dan para penghuninya. Seandainya Totti lebih memilih kebahagian pribadi maka sudah lama dia pindah dari Roma untuk bermain diklub yang mempunyai potensi lebih besar dalam meraih gelar juara, namun Totti paham yang paling harus dia bahagiakan adalah para pendukung Roma yang juga terus mendukungnya.
Bagi saya sudah cukup Totti berusaha membahagiakan Roma, keterbatasan fisik karena faktor usia adalah alasan utama, ditambah lagi Totti harus menyerahkan ruang ini kepada oranglain agar ruang ini terus hidup, Totti harus ikhlas mengakui bahwa ada oranglain yang bisa membuat Roma meraih gelar juara, dengan berhenti Totti dapat menginspirasi oranglain untuk melanjutkan apa yang dia kerjakan selama ini, bahkan bisa dengan kuantitas dan kualitas yang melebihi Totti. ibarat pepatah mati satu tumbuh seribu, karena Totti susah menanamkan cita-cita mulia diklub ini maka sudah saatnya Totti membiarkan cita-cita itu tumbuh dengan disiram oleh air yang lebih baik dan lebih sering.
Pensiunlah tahun ini kapten, berhentilah menanggung beban itu sendirian, terimakasih sudah menempatkan kebahagian oranglain diatas kebahagian pribadi.
Komentar
Posting Komentar