Catatan Facebook 2018: Muak pada Kecepatan
Kecepatan, kata yang mungkin terus terngiang dalam kepala mahasiswa hari ini. Cepat sarjana, cepat kumpul tugas, cepat kkn, dan segala kecepatan lainnya. Untuk apa semua kecepatan itu? Agar cepat dapat kerja, cepat menikah, atau cepat lanjut S2. Lagi-lagi kecepatan.
Perilaku ini bukan sesuatu yang tiba-tiba, melainkan perilaku yang dikonstruksi secara struktural melalui peraturan akademik, peraturan kemahasiswaan, standar mutu akademik, dan standar penerimaan pelamar kerja, serta yang paling memprihatinkan praktik dosen dalam mendidik mahasiswa.
Beberapa kali saya menemukan seorang dosen yang memberikan arahan kepada mahasiswanya untuk melakukan ini dan itu agar mahasiswanya bisa segera sarjana, beberapa mahasiswa yang enggan menerima arahan itu mendapatkan sentimen.
Praktik seperti ini sebenarnya adalah hal yang wajar, karena dosen memiliki struktur di atasnya yang memang mengkonstruk pola pikir serba cepat itu, misalnya saja standar akreditasi atau mutu akademik sebuah fakultas yang memasukkan banyaknya jumlah lulusan dan lama masa studi seorang sarjana, sebagai indikator keberhasilan.
Mahasiswa yang berada pada bentuk relasi struktural paling bawah, juga turut mewacanakan kecepatan, kepada siapa? Kepada mahasiswa junior. Contohnya di lembaga kemahasiswaan mulai banyak terjadi lompatan generasi angkatan (berdasar tahun masuk) yang menjabat sebagai fungsionaris lembaga. Akibat angkatan yang semestinya mengisi jabatan tersebut sedang dilanda kekhawatiran tidak cepat sarjana.
Yang menyedihkan dari konstruksi standar kecepatan ini adalah, kaburnya penilaian objektif terhadap yang benar, dan baik. Kita hidup seperti seorang anak yang sedang ikut lomba lari di acara tujubelasan, yang akan menjadi pemenang, terbaik, dan terkenal, adalah yang paling pertama menyentuh garis finish.
Tidak ada indikator dan hadiah bagi pelari yang menolong pelari lain untuk berdiri saat terjatuh, atau pelari dengan teknik lari paling benar. Hanya satu yang kita nilai, yang paling cepat.
Dalam beberapa perbincangan dengan mahasiswa lain di kampus, bahkan ada yang menyamakan kecepatan dengan perubahan, dan kemajuan. Ketiga kata itu dianggap mewakili makna dan realitas yang sama dan selaras.
Pola kehidupan seperti apa yang akan cocok dengan konstruksi kecepatan ini? Yah tentu saja rutinitas dan kompetisi. Lebih lanjut akan mengkategorikan manusia dalam dua jenis, pemenang, dan pecundang.
Sang pemenang akan kita puja, tuliskan kisahnya, dan dengarkan seminar motivasinya. Sedang sang pecundang akan menjadi bahan tontonan untuk memunculkan simpati yang diimajinasikan.
Lantas dimana tempat manusia yang lambat? Pertama, tidak masuk kategori manusia. Kedua, sedang dalam tempat penitipan.
Ditulis saat hendak berangkat ke kampus. Makassar, 2 November 2018
Komentar
Posting Komentar