Setelah Menonton Tigertail


Tigertail bercerita tentang kehidupan di Taiwan pada masa kekuasaan Kuomintang dengan segala kesulitan ekonomi dan kehidupan sosial, memaksa penduduknya untuk punya mimpi pergi ke luar negeri guna mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Dalam cerita ini, pemeran utama akan bertolak ke Amerika, negeri adidaya yang menjadi negeri impian dengan segala atribut kemewahan dan pencapaian peradaban luar biasanya. Di sini lah letak ketertarikan saya pada film ini, potret masyarakat negara dunia ketiga yang otentik dengan segala kepercayaannya pada mitos dunia pertama.

Hidup di dunia ketiga mungkin akan berakhir sama di mana saja, lahir dari keluarga kurang berada lalu tercerabut dari identitasnya sebagai masyarakat rural, hingga berakhir menjadi buruh pabrik di kota-kota yang menawarkan kehidupan lebih baik. Pada kenyataannya kota justru hanya menawarkan hidup dari hari ke hari dengan beban kerja besar dan penghasilan yang tidak cukup untuk ditabung, apalagi mewujudkan mimpi hidup layak. Dengan sisa pengharapan yang membuat seseorang masih merasa hidup dari hari ke hari layak untuk diperjuangkan sambil berharap akan datang satu kesempatan untuk mengubah hidup sepenuhnya di luar negeri. 

Tokoh utama dalam film ini tumbuh dengan kondisi seperti itu, kerasnya hidup membuat dirinya menjadi orang yang ambisius, untuk tidak mengatakannya keras hati, merasa mengemban semua tanggung jawab di pundaknya. Masa muda adalah kesempatan emas untuk mengubah nasib dengan kerja keras dan tidak melewatkan satu pun kesempatan yang datang, termasuk jika kesempatan itu harus mengorbankan kesempatan bersama pacar yang sangat dicintai. tumbuh dengan melihat orang tua mengerahkan segala tenaga untuk menghidupi anak-anaknya adalah pengalaman pahit, memaksa anak untuk dewasa secara prematur, memilih pengorbanan diri adalah jalan untuk membahagiakan keluarga. 

Kala kesempatan untuk pergi ke Amerika datang, si tokoh utama segera mengambilnya, yang terpikir dalam dirinya hanyalah pengorbanan diri yang akan terbalas dengan kebahagiaan Ibunya. Pacarnya dia korbankan, masa mudanya yang cukup menyenangkan dengan sesekali waktu menghibur kelelahan dengan pergi ke bar dia tinggalkan, kampung halaman yang berisi kenangan pahit sudah tidak dia perlukan lagi. Ke luar negeri adalah kehidupan baru yang layak untuk ditukarkan dengan semua itu. 

Sayangnya, kehidupan di luar negeri tidak pernah benar-benar mudah, bekerja dari pagi hingga tengah malam di luar negeri itulah yang akan merenggut semua yang dimilikinya. Mulai dari istri yang merasa bosan seharian di rumah hanya sendiri, aktivitasnya hanya mengurusi urusan rumah, seperti pembantu rumah tangga. Anak-anaknya yang dia didik dengan keras agar bisa bertahan hidup di dunia yang kelewat kejam ini baginya, tidak ada waktu untuk menangis dan berkeluh kesah, waktu yang ada haruslah dipergunakan sebaik mungkin guna bekal masa depan. Kerja kerasnya memang membuahkan hasil, tapi itu semua secara perlahan merenggut apa yang berharga darinya.

Pertama, pacar dan cinta pertamanya yang ia tinggalkan di Taiwan. Kedua, Ibunya yang menolak ikut ke Amerika untuk mencicipi jerih payahnya, ditambah kebenaran bahwa selama ini Ibunya tidak pernah terpikir untuk hidup lebih layak di Amerika, padahal itu alasan si tokoh utama berpindah ke Amerika. Ketiga, Istrinya yang meminta cerai karena merasa selama ini hanya diperlakukan seperti pembantu. Keempat, anaknya yang tidak ingin bercerita padanya karena tidak merasa memiliki kedekatan emosional. Jadilah hari tuanya dipenuhi dengan kesendirian dan ratapan. 

Pola kehidupan yang seperti ini saya pikir sangat menggambarkan bagaimana rasanya menjadi manusia yang hidup di negara ketiga, seperti berpindah dari desa ke kota, masa muda habis untuk bekerja, masa menjadi orang tua juga dihabiskan dengan bekerja dan mendidik anak dengan penuh disiplin agar memiliki etos hidup yang baik kelak. Waktu yang dihabiskan untuk bekerja sembari menanggung seluruh beban sendirian adalah hal yang wajar, semua akan terbalas dengan kebahagian orang-orang di sekitar, tapi kenyataan tidak semanis itu, kenyataan akan datang dengan bentuknya yang lebih pahit.

Pandangan yang memandang penghidupan adalah melulu soal materi itulah yang menghilangkan kasih sayang yang seharusnya kita beri dan terima dari orang-orang sekitar. Tidak ada yang perlu disalahkan pada si tokoh utama, karena sebenarnya kemiskinan dan ketimpangan yang membuatnya menjadi seperti itu. Lahir dan besar dalam kemiskinan sangat layak untuk dikutuk, tapi mereka yang menawarkan keluar dari jurang kemiskinan dengan iming-iming kerja keras sepanjang hari lebih layak untuk langsung dicaci maki sampai ke liang lahat. 

Bagi saya, film ini sangat realis dalam menggambarkan cerita, namun kurang mengeksploitasi kesedihan dan nasib malang di penghujung hari si tokoh utama untuk saya yang suka penggambaran realitas yang gelap dan suram. Untungnya semua itu terselamatkan dengan plot cerita yang menunjukkan bagaimana caranya keluar dari kesuraman hari tua. Meski hidup sering kali tampak muram, setidaknya kita harus punya satu keyakinan yang membuat kita menyadari sesuatu yang indah dan berharga dalam hidup itu ada dan layak untuk dihidupi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah menonton film Mr. Nobody

Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa