Tahun yang berat
Pada bulan Januari, saya menulis di Twitter, berisi prediksi tahun ini akan menjadi tahun terberat bagi saya. Tahun yang bisa membuat hidup saya tidak pernah lagi sama.
Tahun ini, saya harus melulusi mata kuliah yang tersisa. Jika hasil kelulusan mata kuliah tidak sesuai dengan yang saya rencanakan, maka saya bisa tidak sarjana.
Pada tulisan prediksi itu, saya me-mention akun Jokowi, saya memintanya untuk menciptakan kehidupan yang tentram agar saya bisa fokus kuliah saja. Persoalan politik dan sosial adalah yang paling sering menyita konsentrasi saya.
Sekarang sudah bulan Juni, banyak hal yang telah terjadi mulai dari pengesahan UU yang kontraproduktif dengan kesejahteraan rakyat, pandemi beserta efeknya yang memukul setiap lapisan hidup kita, dan berita kehilangan lainnya.
Baru saja, tepatnya kemarin, salah satu mata kuliah yang saya ambil mengumumkan hasil, setelah melihat hasil, perlahan saya merasakan marah dan perasaan takut yang mendalam. Terasa seperti dikejar-kejar sesuatu yang menakutkan setiap saat.
Meski sudah memprediksi ini, tapi tetap saja saya tidak pernah merasa siap. Meski ini bukan kemungkinan terburuk yang saya prediksi, namun satu kemungkinan terburuk yang terwujud tetaplah buruk. Membawa serta kecemasan, ketakutan, dan rasa frustasi yang akut.
Saya hanya bisa berharap hasil mata kuliah lain tidak ikut buruk, karena itu akan sangat membantu saya menjalani hidup di tahun ini, menghibur saya di tengah situasi yang penuh kecemasan. Saya sudah lelah berusa menahan diri untuk tidak peduli pada persoalan selain kuliah. Batin saya tersiksa saat tahu harus berbuat sesuatu tapi tidak bisa apa-apa.
Saya tidak ingin kehilangan segalanya dalam waktu yang bersamaan.
Komentar
Posting Komentar