Catatan Facebook 2019: Eksistensialisme di Berita The Guardian
Kabar ini mengingatkan saya pada pemikiran eksistensialisme yang pernah saya baca, meskipun sebenarnya saya sudah tidak ingin lagi membicarakan pemikiran tersebut.
Namun berita ini terlalu bagus untuk sekadar dibaca dan dibiarkan berlalu seiring ingatan yang kian memudar, berita bagus seperti ini mesti diberikan catatan atasnya agar terawat dalam ingatan lebih lama. Siapa tahu saja di masa depan saya punya anak yang akan menanyakan hal serupa.
Kita memang tidak pernah meminta untuk dilahirkan, kita tidak pernah bersepakat maupun mengerti terhadap apa itu kehidupan sebelum dilahirkan.
Dalam eksistensialisme, ada yang menyebut kelahiran sebagai keterlemparan. Kondisi dimana tidak ada kehendak pada manusia terhadap keberadaannya. Maka setelah berada di dunia, yang selanjutnya dilakukan adalah mengada untuk mengembalikan dan mengontrol kehendak pada diri. Melalui mengada inilah manusia akan sadar terhdap eksistensinya beserta konsekuensinya.
Oleh karena itu eksistensialisme menolak paham esensialitas hidup, karena pengetahuan terhadap esensi kehidupan mengembalikan manusia pada kondisi kehilangan kehendak akibat esensi seringkali digunakan sebagai aturan/tata cara menjalani kehidupan yang terkadang bersifat memaksa.
Sehingga pada saat kehidupan sudah terasa begitu aneh, asing, dan tidak menyenangkan. Beberapa dari kita mulai mempertanyakan bagaimana rasanya jika tidak pernah dilahirkan, tidak perlu merasakan segala kerumitan kehidupan, dan sama sekali tidak mengenal manusia manapun.
Menyalahkan kehidupan mungkin akan terasa melegakan, tapi terus hidup hanya akan membawa pada pencarian kesalahan yang lebih dalam, yaitu kelahiran. Bentuk lebih ekstrim mungkin seperti dalam kutipan berita ini, menyalahkan orangtua yang melahirkannya.
Bentuk pilihan ekstrim tersebut agaknya kurang tepat, meskipun orangtua punya kehendak dan sadar saat melakukan reproduksi, namun bukan berarti dia akan punya kehendak terhadap anak seperti apa dan bagaimana yang akan dilahirkannya. Singkat kata, baik anak maupun orangtua sama-sama tidak tahu terhadap satu sama lain sebelum keduanya saling bertemu.
Jika ada pengetahuan tentang itu, mungkin bisa saja anak akan menolak dilahirkan dan orangtua akan menolak melahirkan, atau kebalikannya.
Disinilah saya pikir paham eksistensialisme berperan dalam membangun hubungan yang harmonis antar orangtua dan anak. Sebagai sesama mahluk yang mengalami keterlemparan, sebaiknya sadar untuk mengaktualkan kehendaknya untuk memahami kehidupan. Orangtua sadar anak akan punya kehendak, sampai pada saat itu tiba orangtua berkewajiban memenuhi kebutuhan anak sebagai bentuk konsekuensi atas pilihannya untuk memiliki anak.
Bukan malah membatasi kehendak anak dengan memilihkan kehidupan seperti apa yang harus dia jalani dengan alasan pengalaman dan lebih dulu hadir di dunia. Karena kondisi seperti ini hanya akan membuat anak terus menjadi manusia yang kehilangan kehendak atas dirinya dan berpotensi juga membuat anak merenggut kehendak manusia lainnya atas dasar ajaran.
Akhir kata, anak perlu diberi kesadaran bahwa dirinya punya kehendak untuk memilih dan setiap pilihan akan membawa konsekuensi yang akan ditanggungnya sendiri. Dengan cara seperti ini, para pemikir eksistensialisme percaya bahwa manusia dapat menemukan esensi kehidupan yang universal.
Komentar
Posting Komentar