Saya Butuh Menangis
Masih membekas dalam ingatan, Bapak pernah berkata "kamu haru mandiri, ....". Saya mengartikan perkataan Bapak sebagai sebuah motto hidup yang memberi penjelasan dalam menjalani hidup jangan bergantung pada orang lain, kerjakan dan selesaikanlah segala urusanmu sendiri, jangan mengeluh pada orang lain, dsb.
Samar-samar dalam ingatan, entah Bapak atau Mama pernah berujar "kamu adalah anak pertama, harus bersiap memikul tanggung jawab". Saya mengartikan ujaran itu sebagai sebuah proyeksi masa depan, kelak saya harus menggantikan peran Bapak untuk membesarkan kedua adik, perlahan seiring usia bertambah saya punya peran meringankan beban Bapak sebagai kepala keluarga, dsb.
Sangat membentuk watak saya hingga hari ini, doktrin maskulinitas dan patriarki yang masuk kedalam gendang telinga melalui rambatan suara omongan orang-orang seekitar lalu meresap dalam batok kepala. Saya menerimanya mentah-mentah sebagai sebuah sifat niscaya dalam diri bahwa seorang laki-laki tidak boleh bersikap lemah, termasuk menunjukkan kesedihan, dsb.
Ketiga peristiwa di atas sedikit banyak membentuk watak, melandasi tindakan, dan menjadi pedoman hidup saya. Setelah itu saya tidak bisa mengingat dengan pasti kapan terakhir kali saya menangis.
Semenjak berkuliah, pikiran saya mulai terbuka untuk mempertanyakan dan menolak semua paham lama itu. Namun watak tidak bisa berubah semudah dan secepat yang saya inginkan. Watak sebagai sebuah panduan otomatis menjalani hidup dibentuk melalui paham yang menjejali kepala sejak dini lalu bertranformasi menjadi tembok tebal yang melindungi diri dari perintah-perintah baru menjalani hidup. Pikiran terbuka dan rasional yang tertanam dalam diri sejak kuliah belum menjadi meriam yang cukup kuat untuk merubuhkan tembok tebal watak itu.
Itulah mengapa kini tindakan saya terlihat sebagai sebuah kontradiksi, terkesan bodoh, dan sangat egois. Pikiran terbuka menganjurkan saya bertindak untuk membantu orang lain adalah tindakan mulia yang tidak serta merta membuat si tertolong menjadi tidak mandiri dan lemah. Tapi watak saya memberikan perintah untuk menolak apabila mendapatkan tindakan serupa dari orang lain. Saya merasa diri ini seperti anak kemarin sore yang mengartikan pepatah "tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah" sebagai membantu orang lain itu mulia, sedangkan meminta pertolongan orang lain itu hina.
Tentu saja itu sebuah kesimpulan yanng sangat dangkal. Tapi watak saya masih cukup kuat untuk memaksa diri ini untuk menelan bulat-bulat semua kesedihan sementara sejujurnya ingin berteriak meminta pertolongan. di tengah kegamangan itu saya sadar jika tidak bisa mengutarakan permintaan tolong pada orang lain maka saya harus menolong diri sendiri, caranya adalah mengaktifkan mekanisme alami pemulihan diri yaitu menangis. Dan hingga saat ini saya belum bisa memberi diri ini kebutuhannya yaitu menangis.
Komentar
Posting Komentar