Terlalu Banyak Tapi


Sayangku, di manakah kita sekarang? sedang dalam fase apakah kita sekarang? samakah yang ku rasa dengan yang kau rasa? penting kiranya kita menjawab semua pertanyaan itu sebelum lebih jauh membayangkan akan seperti apa kita berdua kedepan. Utamanya agar kita bertemu dalam imajinasi masa depan itu.

Sayangnya Aku dan Kamu hampir tidak pernah mengajukan pertanyaan itu dalam setiap pertemuan kita. entah karena kebingungan dan tidak terbiasa mengutarakan isi hati atau karena kita terlalu sibuk mencari candaan untuk dilontarkan agar pertemuan itu dipenuhi tawa. Padahal sebelum pertemuan berlangsung, Aku sudah mengingat-ingat apa saja dari dirimu yang tidak ku suka dan Aku ingin Kamu menguranginya. 

Saat kita bertemu semua ingatan itu tak bisa terucap, Aku beralih fokus ingin terus membuatmu merasa nyaman, tenang, dan tidak khawatir dengan hidup yang sudah kadung mengkhawatirkan ini. Aku ingin Kamu tertawa dengan lepas dari kelelahanmu selama hari ini.

Kita seperti ingin menjalani hubungan casual saja, tidak ada pretensi tertentu ataupun komitmen tertentu yang perlu diutarakan. Cukup memendamnya. Karena itu bisa saja menganggu hubungan kita yang tak pernah bertemu dalam tujuan. Aku sadar betul, Aku punya keinginan untuk merubah arah hubungan ini. Ada komitmen yang ingin kutekankan, sekadar memastikan bahwa kita memang memiliki tujuan yang sama.

Meskipun kini Aku tahu, kita memiliki tujuan yang sangat berbeda, prinsip yang kita pegang juga sangat berbeda. Hal ini mengingatkanku pada perkataan Zizek dalam salah satu wawancaranya. Saat ditanyai soal apa itu cinta, Zizek menjawab, yang indah dari cinta hanyalah komitmen. Komitmen yang membuat kita merelakan orang lain masuk dalam kehidupan kita, membagi tugas dalam keseharian, dan suatu keingianan untuk berubah secara radikal hanya agar bisa hidup bersama orang itu.

Dari penjelasan itu, Aku berpikir mungkin masih ada kesempatan bagi kita untuk bersama jika kita rela berkomitmen. Ketika kita tidak keberatan dengan perbedaan pendapat satu sama lain, lalu menjadikannya sebagai masukan dalam hidup. Artinya ada ruang asimilasi di antara kita.

Tapi perlahan kemungkinan itu mulai memudar saat Aku kembali mendengarkan wawancara Zizek, kali ini dia menjelaskan soal apa itu ideologi ala Amerika. Ideologi yang ditanamkan melalui praktik imperialisme lewat media, membentuk imajinasi dan kebudayaan yang sering kali kita sebut sebagai American dream. Dalam ideologi ini kita bermimpi akan kebebasan tanpa batasan norma kecuali kebebasan itu sendiri. Mimpi yang dipenuhi dengan  aktivitas eksperimental, seperti slogan-slogan terkini para anak muda yang kelewat optimis tapi sejatinya determinis dalam kalimat “hidup adalah petualangan, nikmati segala sensasinya”.

Dari situ Aku sadar bahwa perbedaan kita adalah perbedaan ideologis. Kamu dengan ideologi liberal dan Aku dengan ideologi sosialis sudah berseteru sejak awal. Bagiku bukanlah kebebasan individu yang utama melainkan kesetaraan sosial yang membuat kita mesti memikirkan betul bagaimana suatu privilese menghasilkan sensasi yang berbeda pada setiap orang dan mengaburkan antara yang kepemilikan pribadi dan kepekaan sosial.

Dari sini jelas sudah bahwa Aku dan Kamu tidak akan mampu berkompromi pada watak satu sama lain. Namun, bukan itu yang membuatku paling khawatir. 

Saat Aku tahu bahwa Kamu tidak pernah menganggap hubungan kita benar-benar spesial dan ternyata Kamu punya hubungan spesial dengan orang lain itulah yang membuatku paling khawatir. Ternyata sejak awal Aku sudah menciptakan pertanyaan yang tidak pernah Kamu pikirkan dan tidak mungkin Kamu jawab. Sehingga berbagai macam penelusuranku soal perbedaan ideologis kita tidak pernah benar-benar berguna.

Prediksi terburuk yang Aku bayangkan sejak awal itu kini benar-beanr terjadi. Meskipun saat Kamu mengatakan padaku pada malam itu bahwa ada yang lebih di antara kita, hanya ekspresi kesepian yang bisa berubah sewaktu-waktu saat Kamu tak lagi dalam kondisi itu. Tapi sayangku, Aku tidak pernah menduga ini akan terjadi secepat ini. Saat Aku sedang lemah dan frustasi. Saat Aku kembali menjadi anak yang labil dan tak tentu arah. Tapi jangan pula Kamu merasa kasihan padaku, karena tidak ada yang paling menyedihkan selain menerima rasa kasihan dari orang yang tidak pernah benar-benar peduli padamu.

Terakhir, izinkanlah aku memberimu suatu komentar tentang prinsip hidupmu yang terlihat seperti model open relationship, tidak ada kepuasaan dalam model hubungan seperti itu, Kamu hanya akan terus berpindah dari satu ke yang lain untuk memenuhi kebutuhanmu. Dari situ, Kamu hanya akan terus berada dalam spiral pemuasan hasrat.

Oh iya, satu lagi, jika kamu membaca ini. Aku punya satu pertanyaan terakhir, Kamu lebih suka akhir cerita di film 5cm Per Second atau Us and Them?

Postingan populer dari blog ini

Setelah Menonton Tigertail

Setelah menonton film Mr. Nobody

Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa