Tangkapan layar itu
Hari ini saya terbangun dalam keadaan panik, karena kuliah daring sudah dimulai.
Dengan kondisi penglihatan yang masih buram, saya segera mengambil telepon pintar dan segera membuka grup WA. Sontak cahayanya membuat mata saya sakit, saya menahannya lalu beralih membuka materi yang dikirim dosen di grup WA.
Saat membaca materi, saya sempat tertidur. Ketika sadar kembali dan menatap layar telepon, tampilan yang muncul adalah galeri foto di cloud. Entah apa yang tangan saya lakukan saat tertidur sejenak tadi.
Karena jarang dibuka, saya tertarik untuk melihat foto apa saja yang pernah saya cadangkan di cloud. Ternyata di antara tumpukan foto itu ada tangkapan layar berisi pesan singkat antara saya dan dia. Dia yang pernah menjadi sang pujaan.
Membaca pesan di tangkapan layar itu membawa saya pada ingatan lama yang menghadirkan kegembiraan. Melihatmu mengungkapkan cemburu membuat saya merasa ada dan tidak sendirian.
Saat itu saya ingin menggugat Heidegger, bahwa bukan kecemasan yang membuat eksistensi kita penuh, melainkan perasaan cinta yang berbalas. Saat itu saya merasa proses bereksistebsi saya sudah final. Namun perlahan perasaan itu berubah menjadi kesedihan setelah tahu itu hanya masa lalu.
Mata saya mulai berair karena cahaya telepon terlalu terang. Saya matikan telepon, lalu kembali tidur untuk melupakan segalanya, termasuk kuliah daring.
Komentar
Posting Komentar