Hari hari penuh kecemasan
Seorang pengajar dalam grup pesan singkat menuliskan pesan semangat agar kuat menghadapi situasi wabah corona. Pesannya dimulai dengan kalimat yang kurang lebih berbunyi "kita tidak pernah membayangkan keadaan akan seperti ini....".
Seketika tangan saya gatal untuk membalas pesannya, saya mulai mengetik pesan "sebenarnya sudah terbayang sejak pemerintah ngotot tidak mau menutup akses masuk dari luar". Namun saya urungkan untuk mengirim balasan itu. Saya tidak ingin menjadi perhatian seantero grup hanya karena membantahnya, yang sebenarnya itu sah-sah saja.
Sejak China dan kota Wuhan-nya menjadi tajuk berita utama karena melakukan isolasi, hampir seluruh orang yang membaca dan memahami dengan baik isi berita itu saya yakin mulai merasa cemas. Penyebarannya sangat cepat, manusia adalah perantara sekaligus targetnya.
Beberapa negara yang sadar akan lemahnya sistem medis mereka melakukan pelarangan masuk ke negeranya secepat mungkin. Di negara kita, pemerintah melalui pejabat negara sibuk beecanda dan ngelantur kalau virus ini bukan persoalan serius. Gilanya, pemerintah sibuk mempromosikan wisata bagi turis asing.
Kini, semua tampak begitu terlambat, angka kematian tinggi, jumlah pengidap virus diprediksikan akan terus bertambah. Kecemasan melanda kita semua, bagaimana jika saya atau keluarga ada yang positif? Saat itu mungkin langit akan terasa runtuh, mengetahui kematian adalah kemungkinan besar yang menanti.
Kita dianjurkan tidak keluar rumah, tapi orang-orang di rumah mulai cemas apakah masih dapat menyediakan bahan makanan. Kecemasan menghantui kita semua dimana pun dan kapan pun. Hari-hari penuh kecemasan seperti ini tidak bisa diatasi hanya dengan semangat dan imbauan.
Kita butuh langkah konkret yang rasional agar kehidupan bisa terus berlanjut. Sayangnya, pemerintah tidak kunjung memberikan itu. Mungkin ini ganjaran bagi kita yang masih terus membiarkan hidup kita diatur oleh orang-orang yang tidak becus.
Komentar
Posting Komentar