Soda gembira dan empati yang mengendap

Seharusnya sejak pagi saya sudah ada di tempat pembuangan akhir (TPA) Tamangapa, Antang. Tapi karena saya ketiduran, siang baru kami berangkat ke sana. 

Sesampainya di TPA, akhirnya saya bisa melihat bukit-bukit yang tesusun dari tumpukan sampah. Pemandangan yang selama ini hanya saya lihat melalui gambar di internet. 

Diawali dengan menyampaikan maksud kedatangan kami kepada petugas setempat yang untung saja memberi respon memudahkan tujuan kami. Setelah melihat-lihat kondisi TPA, saya dan seorang kawan menarget seorang bapak untuk diwawancarai. 

Bapak itu kami pilih karena sedang tidak bekerja, dia baru saja menyelesaikan makan siang tepat di atas tumpukan sampah dan dipayungi terpal berwarna biru dari teriknya matahari. Kami menggali kisahnya yang sudah setua usia operasi TPA. Bapak inilah generasi pertama pemulung di TPA. 

Kami mendengar banyak cerita soal aktivitas dan pengalaman memulungnya. Mulai dari hari liburnya di hari jumat karena ada aktivitas salat jumat, sampai sudah sejauh apa dia menghidupi keluarganya dari hasil memulung. 

Dari cerita bapak itu, saya sadar ternyata benar-benar ada orang yang menyambung hidupnya dari hari ke hari dengan kondisi kerja yang sangat rentan. Ketika dia tidak bisa bekerja mungkin saja dapurnya akan berhenti. Semangat menyambung hidup itulah yang mungkin membuat bapak dan para pemulung lainnya tidak pernah sakit selama beraktifitas di TPA. Tapi semangat itu tak kunjung membuat kelas sosial mereka berubah. 

Di dunia yang lain, di beranda media sosial saya.
Orang sibuk menggunjing orang yang masih saja beraktifitas di luar rumah dan dalam keramaian di tengah kondisi wabah virus corona. Pembahasan yang mungkin tidak akan pernah bisa menjadi opsi para pemulung ini. 

Tidak ada opsi bekerja dari rumah bagi mereka, menghindari keramaian, dan menjaga kehigenisan. Berdasar hasil penelitian terbaru, ada sekitar 1000 pemulung yang bekerja di TPA Tamangapa. Waktu kerjanya ada yang dari pagi sampai maghrib dan dari setelah maghrib sampai subuh.

Yang ada, berdasar dari keterangan bapak itu, sejak wabah corona ramai di Indonesia, harga jual sampah plastik ke pengepul jadi turun. Saya menerka ini dikarenakan banyak stok plastik bekas yang tidak terjual di gudang pengepul karena aktivitas pabrik daur ulang belum normal kembali. 

Saat itu saya sadar betapa tidak riilnya bayangan saya soal kondisi kemiskinan saat berdiskusi di kampus, serta betapa tidak tepatnya solusi mengatasi kemiskinan yang selama ini saya utarakan. Saat di kampus saya bisa bersimpati pada kemiskinan, saat berhadapan langsung dengan kemiskinan simpati saja tidak cukup. 

Sepulang dari TPA, kami mampir untuk makan di warung yang berada tepat di depan jalan masuk TPA. Di tempat makan itu tersedia minuman soda gembira, minuman yang sudah jarang ditemui. 

Saya pesan soda gembira lalu meminumnya langsung dari botol. Botol kaca soda itu membangkitkan ingatan masa kecil saya. Masa dimana saya pernah duduk di teras saat siang hari untuk menunggu pemulung datang membeli botol kaca bekas yang sudah saya kumpulkan. 

Saat menuliskan pengalaman ini, saya teringat sewaktu SMP setelah pulang sekolah, masih menggunakan seragam, saya pernah bersama seorang teman  berkeliling mengumpulkan gelas plastik untuk dijual ke pengepul. Uang hasil jualan itu kami pakai untuk membeli lontong sayur. 

Ingatan-ingatan ini yang harus terus saya pelihara dan kembangkan untuk membawa simpati saya berubah menjadi empati yang telah mengendap. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Menonton Tigertail

Setelah menonton film Mr. Nobody

Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa