Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Mengumpulkan Buku

Sejak tahun 2015 saya punya kebiasaan untuk membeli minimal satu buku setiap bulan, ketika uang bulanan sudah masuk di rekening, saya segera menariknya dari mesin anjungan tunai mandiri sebanyak 100 ribu, terkadang 150 ribu. Uang itu segera saya habiskan di toko buku, biasanya saya mendapat 2 buku, meski tidak rutin setiap bulan melakukan belanja buku karena terkadang uang bulanan saya tidak cukup untuk dibelanjakan buku setelah menghitung pengeluaran untuk hidup satu bulan kedepan.  Seingat saya, sampai dua tahun lalu saya punya koleksi kurang lebih sebanyak 150 buku, sebagian besar buku-buku itu sudah tidak dalam genggaman saya lagi. Ada yang dipinjam entah oleh siapa dan tak kunjung kembali, ada juga yang saya sumbang untuk perpustakaan di organisasi tempat saya belajar, sayangnya buku yang saya sumbang untuk perpustakaan itu berakhir di tangan orang-orang yang entah siapa, karena terakhir kali saya mengecek perpustakaan organisasi, buku-buku itu tidak lagi ada di sana. Penyesal...

Setelah Menonton Tigertail

Tigertail bercerita tentang kehidupan di Taiwan pada masa kekuasaan Kuomintang dengan segala kesulitan ekonomi dan kehidupan sosial, memaksa penduduknya untuk punya mimpi pergi ke luar negeri guna mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Dalam cerita ini, pemeran utama akan bertolak ke Amerika, negeri adidaya yang menjadi negeri impian dengan segala atribut kemewahan dan pencapaian peradaban luar biasanya. Di sini lah letak ketertarikan saya pada film ini, potret masyarakat negara dunia ketiga yang otentik dengan segala kepercayaannya pada mitos dunia pertama. Hidup di dunia ketiga mungkin akan berakhir sama di mana saja, lahir dari keluarga kurang berada lalu tercerabut dari identitasnya sebagai masyarakat rural, hingga berakhir menjadi buruh pabrik di kota-kota yang menawarkan kehidupan lebih baik. Pada kenyataannya kota justru hanya menawarkan hidup dari hari ke hari dengan beban kerja besar dan penghasilan yang tidak cukup untuk ditabung, apalagi mewujudkan mimpi hidup layak. Denga...

Tahun yang berat

Pada bulan Januari, saya menulis di Twitter, berisi prediksi tahun ini akan menjadi tahun terberat bagi saya. Tahun yang bisa membuat hidup saya tidak pernah lagi sama.  Tahun ini, saya harus melulusi mata kuliah yang tersisa. Jika hasil kelulusan mata kuliah tidak sesuai dengan yang saya rencanakan, maka saya bisa tidak sarjana.  Pada tulisan prediksi itu, saya me -mention akun Jokowi, saya memintanya untuk menciptakan kehidupan yang tentram agar saya bisa fokus kuliah saja. Persoalan politik dan sosial adalah yang paling sering menyita konsentrasi saya.  Sekarang sudah bulan Juni, banyak hal yang telah terjadi mulai dari pengesahan UU yang kontraproduktif dengan kesejahteraan rakyat, pandemi beserta efeknya yang memukul setiap lapisan hidup kita, dan berita kehilangan lainnya. Baru saja, tepatnya kemarin, salah satu mata kuliah yang saya ambil mengumumkan hasil, setelah melihat hasil, perlahan saya merasakan marah dan perasaan takut yang mendalam. Terasa seperti dikejar...

Belajar untuk berkolaborasi

Saya berkuliah di fakultas yang merupakan ilmu terapan, itu berarti dasar-dasar ilmunya diambil dari ilmu lain untuk dikonsentrasikan mendalami satu bidang. Nah bidang ini cakupannya luas, jadi butuh banyak ilmu lain untuk menjalankannya.  Misal, untuk menjelaskan hewan dan tumbuhan yang ada dalam cakupan kerja bidang ini diperlukan ilmu ekologi yang diambil dari ilmu biologi. Untuk menjelaskan kerja alam dalam bidang ini perlu ilmu fisika, untuk menjelaskan efisiensi dan efektivitas produksi butuh ilmu teknologi, manajemen, dsb.  Intinya untuk bisa menjalankan bidang ini dengan baik perlu mengkomparasi ilmu-ilmu yang sudah ada. Ilmu dalam sejarahnya selalu berkelindan dengan ilmu lain. Pelacakan ilmu sebelum menjadi cabang-cabang akan mengarah ke filsafat sebagai induk dari segala ilmu.  Saat masih semester awal saya gemar belajar filsafat karena punya banyak tenaga untuk bersikap cuek pada aktivitas belajar wajib saya yang lain. Sama seperti orang lain yang sedang keran...

Akhir Semester

Kuliah kini memasuki masa akhir semester. Beberapa minggu lagi, saya dan mungkin kalian akan memasuki masa-masa penuh kecemasan. Cemas menanti kejelasan nasib, apakah akan berakhir dengan keberhasilan atau kegagalan.  Saya sangat tidak suka dua kategori hasil seperti itu, seolah menempatkan kita pada kondisi akan menjadi pemenang atau pecundang. Memaksa kita untuk bersaing dengan yang tidak kita inginkan, bahkan dengan diri sendiri.  Orang-orang mungkin akan berkata kita saja yang kurang usaha dan terlalu malas, mungkin penilaian itu ada benarnya. Tapi pernahkah ada yang mencoba bertanya untuk sekadar memahami alasan kita mengapa tidak kunjung selesai, tanpa memaksakan jawabannya agar kita berubah Saya tahu, ditanya untuk sekadar disanggah itu rasanya menjengkelkan. Menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang juga sama menjengkelkannya. Membuat ragu apakah pertanyaan itu memang menunjukkan kepedulian atau sekadar basa-basi untuk menghindari kecanggungan saat bertemu.  Mu...

Melahap Habis

Saat sedang suka dengan sesuatu, saya akan menikmatinya sampai tak tersisa. Misalnya saya baru saja mendengar dan suka dengan lagu A, seharian atau seminggu atau bahkan sebulan penuh saya bisa hanya mendengar lagu A saja.  Sama halnya dengan yang lain, pernah selama satu minggu saya memakan makanan yang sama di antara dua waktu makan. Saat merasa sudah mendapatkan semua sensasinya barulah saya berhenti. Contoh musik yang saya dengar terus menerus. Ketika setiap bagian yang membuat saya berdecak kagum sudah saya dengar semua atau hafal. Di situ lah saya akan berhenti karena sudah tidak ada lagi yang dapat digali atau didalami. Sensasinya sudah saya dapatkan semua. Mungkin karena itu lah saya merasa tidak cocok dengan rutinitas. Meski tampak serupa, saya menganggap kebiasan saya itu bukan rutinitas. Karena rutinitas berarti melakukan prosedur yang sama setiap waktu tertentu, sedangkan yang saya lakukan tanpa ada jadwal tertentu kadang tanpa putus.  Lebih tepatnya, apa yang saya ...

Hari hari penuh kecemasan

Seorang pengajar dalam grup pesan singkat menuliskan pesan semangat agar kuat menghadapi situasi wabah corona. Pesannya dimulai dengan kalimat yang kurang lebih berbunyi "kita tidak pernah membayangkan keadaan akan seperti ini....".  Seketika tangan saya gatal untuk membalas pesannya, saya mulai mengetik pesan "sebenarnya sudah terbayang sejak pemerintah ngotot tidak mau menutup akses masuk dari luar". Namun saya urungkan untuk mengirim balasan itu. Saya tidak ingin menjadi perhatian seantero grup hanya karena membantahnya, yang sebenarnya itu sah-sah saja.  Sejak China dan kota Wuhan-nya menjadi tajuk berita utama karena melakukan isolasi, hampir seluruh orang yang membaca dan memahami dengan baik isi berita itu  saya yakin mulai merasa cemas. Penyebarannya sangat cepat, manusia adalah perantara sekaligus targetnya.  Beberapa negara yang sadar akan lemahnya sistem medis mereka melakukan pelarangan masuk ke negeranya secepat mungkin. Di negara kita, pemerintah melal...

Soda gembira dan empati yang mengendap

Seharusnya sejak pagi saya sudah ada di tempat pembuangan akhir (TPA) Tamangapa, Antang. Tapi karena saya ketiduran, siang baru kami berangkat ke sana.  Sesampainya di TPA, akhirnya saya bisa melihat bukit-bukit yang tesusun dari tumpukan sampah. Pemandangan yang selama ini hanya saya lihat melalui gambar di internet.  Diawali dengan menyampaikan maksud kedatangan kami kepada petugas setempat yang untung saja memberi respon memudahkan tujuan kami. Setelah melihat-lihat kondisi TPA, saya dan seorang kawan menarget seorang bapak untuk diwawancarai.  Bapak itu kami pilih karena sedang tidak bekerja, dia baru saja menyelesaikan makan siang tepat di atas tumpukan sampah dan dipayungi terpal berwarna biru dari teriknya matahari. Kami menggali kisahnya yang sudah setua usia operasi TPA. Bapak inilah generasi pertama pemulung di TPA.  Kami mendengar banyak cerita soal aktivitas dan pengalaman memulungnya. Mulai dari hari liburnya di hari jumat karena ada aktivitas salat juma...

Tangkapan layar itu

Hari ini saya terbangun dalam keadaan panik, karena kuliah daring sudah dimulai. Dengan kondisi penglihatan yang masih buram, saya segera mengambil telepon pintar dan segera membuka grup WA. Sontak cahayanya membuat mata saya sakit, saya menahannya lalu beralih membuka materi yang dikirim dosen di grup WA.  Saat membaca materi, saya sempat tertidur. Ketika sadar kembali dan menatap layar telepon, tampilan yang muncul adalah galeri foto di cloud . Entah apa yang tangan saya lakukan saat tertidur sejenak tadi.  Karena jarang dibuka, saya tertarik untuk melihat foto apa saja yang pernah saya cadangkan di cloud . Ternyata di antara tumpukan foto itu ada tangkapan layar berisi pesan singkat antara saya dan dia. Dia yang pernah menjadi sang pujaan.  Membaca pesan di tangkapan layar itu membawa saya pada ingatan lama yang menghadirkan kegembiraan. Melihatmu mengungkapkan cemburu membuat saya merasa ada dan tidak sendirian.  Saat itu saya ingin menggugat Heidegger, bahw...

Shit. here we go again

Taik, lagi-lagi saya harus mengulang ini. Kembali menemukan diri dalam kondisi yang paling tidak diinginkan berdasarkan kehendak sendiri adalah defenisi paling tepat untuk menjilat ludah sendiri. Saya baru saja melakukannya untuk kesekian kali. Sungguh, saya sebenarnya tidak ingin melakukannya. Tapi melihat orang-orang di sekitar selalu mengeluh tentang kondisi yang terjadi tanpa pernah benar-benar memikirkan apa akar masalahnya membuat saya jengah.  Dengan penuh berat hati dan tidak ingin terus risih mendengar keluhan mereka, sekali lagi saya ikut campur untuk menunjukkan bagaimana menggunakan metode analisis akar masalah. Hingga larut dalam kesenangan menyelesaikan masalah.  Kesenangan yang acap kali membuat saya lupa diri.  Kini, saya lelah untuk terus mengatakan "saya tidak blablabla". Karena perkataan itu sering berbalik menimpa saya seperti yang tertulis di awal. Sampai pada kesimpulan saya tidak ingin banyak bicara, eh, ternyata masih saya tidak. Saya ralat, yang b...