Surat untuk diriku yang sudah tua
wahai diriku yang sudah tua, semoga kamu dalam keadaan yang sehat serta berlimpah kebahagian dari keluarga dan kerabat mu.
Ingatlah pada hari ini kamu menulis surat untuk dirimu sendiri yang bertempat di warkop pada malam hari. aku ingin meningatkan dirimu bahwa pada saat kamu muda kamu pernah bermimpi akan perubahan terhadap dirimu sendiri maupun diri orang lain.
Melalui surat ini aku ingin kamu mengingatkan bahwa saat menulis surat ini kamu masih berstatus mahasiswa yang kental akan kultur intelektual kampus, pada saat ini kamu sangat menggandrungi filsafat, tempatmu akhirnya bisa mengatakan bahwa inilah diriku yang saya inginkan dan akan saya perjuangkan, walaupun saat menulis ini kamu sebenarnya sudah kalah oleh kehendak kuasa dari orangtua mu yang sudah terlebih dahulu merencenakan kehidupan baik seperti apa yang akan menjadi masa depan cerahmu, sungguh sangat menyedihkan tatkala dirimu harus bertemu kembali dengan fakultas kehutanan tempatmu mengatakan bahwa ini bukan diriku. kamu saat ini mengalah karena tidak ingin dianggap tak tahu balas budi kepada orangtua yang sudah berkorban materil maupun nonmateril agar masadepan cerah yang direncankan dapat terwujud secara sempurna. kamu sedang mencoba bersikap adil pada orang disekitarmu, tapi kamu lupa pada saat ini kamu bersikap tidak adil pada dirimu sendiri, kamu membohongi dirimu sendiri bahwa keinginan orangtua adalah yang prioritas dibanding keinginan dirimu sendiri.
Serta jangan lupa pada sosok yang kamu kagumi pada saat ini adalah Nietzche seorang lelaki berkumis tebal yang dengan berani mengatakan "Tuhan telah mati" kamu sangat mengagumi orang ini yang dengan pelariannya mengumpat segala macam topeng kekuasaan, aturan, dan kebenaran yang menjadi trend dikalangan masyarakat tempatnya hidup, Nietzche mengatakan bahwa manusia yang bertuhan adalah manusia yang lemah, karena manusia yang bertuhan selalu berterimakasih kepada tuhan atas segala kebaikan yang didapat oleh dirinya,tapi berbalik menyerang tuhan ketika nasib buruk menghampirinya, sehingga dia lupa bahwa segala yang dia peroleh adalah hasil dari apa yang dia kerjakan, dia lupa bahwa tuhan hanya mengatur hasil dari setiap proses yang dijalani oleh manusia itu sendiri. kamu jenuh akan masyarakat ini, kamu lebih senang menyendiri sambil berbincang kepada dirimu sendiri, karena hanya kamu yang paling mengeti dirimu.
Beberapa hari yang lalu juga kamu perlu ingat kamu baru saja membeli buku tentang moralitas, akibat kejenuhanmu terhadap orang-orang disekitar mu yang hobi menghakimi orang lain dengan otoritas moral nya yang sangat subjektif tanpa pernah mengadakan dialog untuk mencapai kesepemahaman, pikiranmu ini lahir akibat kamu setuju pada Soren Kierkegard bahwa eksistensi yang mesti didahulukan, karena peristiwa yang membentuk kepribadian seorang manusia, sehingga manusia harus dibebaskan untuk memilih hidupnya sendiri diatas kesadaran penuh agar muncul komitmen dari keputusan yang diambilnya. iya kamu adalah seorang eksistensialis yang selalu gagal menjadi eksistensialis karena tak mampu kabur dari penghukuman oranglain terhadap apa yang kamu kerjakan. semoga pada saat kamu membaca ini kamu masih menyimpan buku buku kesayanganmu itu.
Ada satu hal lagi yang mungkin akan menjadi kenangan burukmu, maka dari itu aku hanya ingin mengatakan bahwa saat kamu menulis ini kamus sedang menjalani kuliah semester 4.
Yang tak semestinya luput dari ingatan mu juga adalah bahwa pada saat ini kamu sedang menyukai perempuan yang berkripadian sangat terbalik dengan dirimu, perempuan yang sangat ribut nan periang itu, prempuan yang masih belum dimerdekakan oleh dirinya sendiri akibat tumbuh dalam kultur budaya yang tidak membebaskan seorang perempuan. maka dari itu aku berdoa agar ketika kamu membaca surat ini, perempuan itu sedang menemani anakmu bermain dihalaman belakang rumah, dan ingatlah bahwa tujuan utamu mu adalah memuliakan perempuan itu serta memeberinya kemerdekaan atas gender. oh iya pada saat ini semua terjadi jangan lupa menunjukkan surat ini pada perempuan itu.
Mungkin hanya ini saja yang perlu aku tuliskan, berbahagialah diriku di masa depan.
Komentar
Posting Komentar