Mimpi, Keterpaksaan, dan Kebohongan
Apa yang sudah kau lakukan berdasarkan keinginan mu sendiri
?. Apakah yang kamu lakukan masih merupakan
paksaan dari oranglain?. Apakah kamu sudah tahu akan bagaimana hidupmu kelak
berdasarkan apa yang kamu kerjakan sekarang ?. Atau kamu belum punya tujuan akan
bagaimana hidupmu dimasa depan kelak ?. Semoga kamu dapat menentukannya sekarang
dan dapat memulai pekerjaan untuk mewujudkannya
Sejak kecil kita sudah sering bermimpi akan menjadi seperti
apa diri kita kelak, tapi seringkali mimpi itu segera sirna, kenapa mimpi itu
cepat sekali sirna ?. Karena saat mendapati pekerjaan yang kita lakukan sekarang
sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang kita inginkan, sehingga kita
merasa mimpi itu hanyalah sekedar mimpi, kita tidak dapat mewujudkannya akibat
tidak ada waktu atau momen untuk mulai mengerjakan apa yang kita mimpikan
karena apa yang kita kerjakan sekarang mengharuskan kita untuk menekuninya
dengan penuh dedikasi, padahal apa yang kita kerjakan saat itu bukanlah pilihan
kita, bisa saja itu pilihan orangtua, atau bisa saja pilihan itu hadir atas
dasar paksaan kondisis sekitar tempat kita tinggal, ketakutan kita akan
terlihat beda dari apa yang ada disekitar kita memaksa kita untuk mengikutinya,
sehingga lahirlah pilihan akan pekerjaan tanpa kesadaran terhadap pilihan itu,
tanpa ada dedikasi didalamnya, dan tanapa tahu konsekuensi apa yang akan muncul
didepannya nanti, yang paling penting tidak adanya keikhlasan didalamnya.
Mungkin itulah gambaran dari aktifitas kita selama hidup,
kita terpaksa melakukan pekerjaan yang bukan atas pilihan secara sadar, dipaksa
memiliki dedikasi penuh terhadap apa yang kita kerjakan, dipaksa memiliki loyalitas
terhadap pekerjaan tersebut, sehingga suatu hari timbullah kebohongan terbesar
sepanjang hidup kita, kita berbohong kepada diri kita sendiri bahwa pekerjaan
itu merupakan pekerjaan yang seharusnya kita kerjakan, itulah pekerjaan yang akan
menunjang mimpi saya, maka selamat kepada kita semua yang telah tega berbohong
kepada dirinya sendiri. Makin hari kita akan makin berbohong kepada diri kita
sendiri, kita mulai mengganti nama keterpaksaan itu sebagai cinta, padahal
didalamnya penuh kebohongan dan kehampaan, buah atas keterpaksaan membohongi
dirinya sendiri. Tapi ini belum berakhir, prilaku yang lebih parah akan segera
hadir, saat kita mulai berani meyakinkan
orang lain agar memilih pekerjaan itu juga, dengan embel-embel gaji berlimpah,
fasilitas mewah, dan kenikmatan berpergian tanpa biaya pribadi. Tapi kita lupa
memberitahunya betapa tersiksanya kita harus bangun pagi pagi buta lalu pulang
setelah senja, sehingga waktu selain bekerja hanya mampu kita gunakan untuk
istirahat, betapa lelahnya anda masih harus mengangkat telpon dari kantor
menanyai soal pekerjaan padahal anda baru selesai makan malam bersama keluarga,
betapa lelahnya anda harus melakukan pekerjaan yang tidak anda inginkan.
Kitapun mulai berdalih setidaknya keluarga saya bahagia,
kita mulai mengorbankan diri atas dasar memenuhi tanggung jawab, seolah ini adalah
perbuatan adil, padahal kita sudah menjadi korban atas penindasan yang anda
lakukan pada diri sendiri, korban dari bayang-bayang yang disebut masyarakat. Dengan
kejam kita melemparkan mimpi-mimpi akan hidup yang penuh kebahagian dan
kebebasan kedalam sumur yang sangat dalam,pengap,dan gelap.
Perasaan bersalah mulai menghantui kita, penyesalan kian
pekat dalam pikiran, amarah yang terbungkus sebagai bom waktu siap meledak
kapan saja terhadap orang-orang disekitar kita, karena sejatinya kita hanyalah
terus tertekan akan kebohongan dan keterpaksaan.
Komentar
Posting Komentar