Perempuan : sama rata atau spesial

Momen hari Kartini dijadikan sebagai hari untuk memperingati perjuangan Kartini dalam mengangkat drajat perempuan dari sekedar sumur, dapur, dan kasur. untuk bisa menempuh pendidikan disekolah sebagai layaknya laki-laki, karena bukan hanya laki-laki saja yang harus pintar dan mampu mengurusi urusan pemimpin. kira-kira seperti inilah gambaran saya tentang hari kartini.

Lantas bagaimana kita harus memperlakukan kaum perempuan guna menempatkannya sama dengan laki-laki. sependek pengetahuan saya seputar gender yang biasa dijadikan alasan untuk mulai memerdekakan perempuan dengan anggapan sifat dan kondisi psikologis perempuan bukanlah sesuatu yang ada sejak lahir, melainkan suatu yang dibentuk oleh lingkungan dan budaya, sehingga dalam anggapan teori gender yang membedakan perempuan dengan laki-laki secara fitrah hanyalah perbedaan biologis semata. 

Jika mengacu pada teori gender diatas maka untuk memerdekakan perempuan kita harus mengakui potensi yang dimiliki perempuan sama dengan potensi yang dimiliki oleh seorang laki-laki, yang pertama harus kita hapuskan adalah pelabelan terhadap kaum perempuan, pelabelan yang berdasar pada sifat dan kondisi perempuan yang lemah, saya pikir perempuan di era ini sudah banyak membuktikan nya dengan banyaknya perempuan yang mulai mengerjakan pekerjaan yang dulu kita anggap itu adalah pekerjaan seorang laki-laki seperti, menjadi pekerja bangunan, menjadi tukang ojek, menjadi orangtua tunggal, dan masih banyak yang lainya. apalagi baru-baru ini ibu-ibu dari rembang baru saja menunjukkan kekuatan seorang perempuan dengan melakukan aksi kaki dipasung semen didepan istana negara guna menolak pabrik semen yang akan didirikan diatas tanah pertanian mereka. dalam aksi tersebut menurut saya mereka adalah seorang perempuan yang bukan hanya peduli terhadap kemiskinan yang akan diderita jika pabrik semen itu didirikan, mereka juga peduli terhadap keberlangsungan lingkungan yang sekarang diambang kemusnahan untuk menjadi penunjang hidup manusia.

Kita sudah berani melepaskan lebel terhadap perempuan yang lemah, lantas sudah tepatkah sikap kita dalam memperlakukan perempuan diruang publik, contohnya dalam kendaraan umum ada bagian khusus bagi penumpang perempauan, dengan berbagai alasan yang menyudutkan perempauan sebagai alat eksploitasi seksual laki-laki hidung belang yang biasanya curi-curi kesempatan melakukan aksi pelecahan seksual dalam kendaraan umum yang padat dan pengap tersebut, lantas sudah benarkah jika kita memeberi perempuan ruang khusus agar terhindar dari aksi pelecahan seksual, menurut saya ini tidak tepat karena, ini suatu bentuk perlakuan spesial terhadap perempuan dengan alasan perempuan tidak mampu melindungi dirinya sendiri yang berarti perempauan itu lemah, ini bukanlah suatu bentuk mengangkat derajat perempuan agar sama rata denagan laki-laki, justru sebaliknya. kenapa kita bisa berpikiran bahwa perempuan perlu dilindungi dari pelecehan seksual ? hal ini mungkin akibat anggapan kita kepada seorang perempuan  yang mengalami pelecehan seksual saat itulah sang perempuan kehilangan kehormatannya, padahal pada saat mengalami pelecehan perempuan sama sekali tidak kehilangan kehormatannya, karena kehormatan bukan terletak pada jenis kelamin mereka melainkan pada perbuatannya, yang kehilangan kehormatannya pada saat itu justru sang pelaku yang melakuakan tindakan penindasan. 

Melihat salah satu contoh bentuk perlakuan spesial terhadap perempuan, maka kita perlu mengetahui apa dampak nya bagi si perempuan itu sendiri, tentu perempuan akan merasa dia adalah mahluk spesial yang selalu perlu perlakuan khusus setiap saat, yang dampak akhirnya adalah membuat perempauan itu sendiri menjadi orang yang lemah, karena ingin selalu di spesialkan terhambatlah potensi mereka yang sebenarnya mampu melakukan sesuatu seorang diri kini sudah mesti dibantu perlakuan spesial oleh seorang laki-laki. ketika sudah menjadi kebiasaan maka hal seperti ini dianggap lumrah sehingga pada suatu saat akan muncul pemahaman bahwa ini sudah menjadi fitrah. 

Maka dari itu perempuan juga harus melepas pelebelan terhadap kaumnya dengan tangannya sendiri, dengan mulai mengaktualkan potensi nya untuk menjadi pintar, cerdas, kuat, bijaksana, mandiri, dll. karena potensi setiap manusia adalah sama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Menonton Tigertail

Setelah menonton film Mr. Nobody

Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa