Mencoba mencintai ibu rektor
Halo ibu rektor, apa kabar ? semoga ibu dalam keadaan sehat, karena terakhir kali saya lihat ibu masih dalam keadaan bugar dan sumringah dalam mengemban amanah publik, sebenarnya saya ingin bertemu langsung dengan ibu untuk ngobrol-ngobrol santai seputar kampus kita tercinta ini tapi, saya tterlalu sibuk dengan kegiatan akademik, dan saya juga yakin ibu sedang sibuk-sibuk nya melakukan pertemuan dengan para penanam modal demi menyokong kampus kita sekarang ini yang menyandang status otonom.
oleh karena itu saya ingin berekeluh kesah tanpa solusi, karena saya tidak cukup pintar dalam memberikan solusi, selain saya tidak cukup pintar, saya juga seorang nihilis. semoga ibu berkenan membacanya siapa tahu bisa jadi bahan renungan untuk memperbaiki kampus tercinta ini. jadi begini bu, saya resah dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh kampus kita, jadi saya sempat merasa kesal kepada ibu, tapi karena saya mencintai kampus ini, maka saya juga harus mencintai ibu yang merupakan bagian dari kampus ini. kepada siapa lagi saya harus mengeluh jika bukan kepada ibu yang menyetujui segala kebijakan yang sudah ditetapkan.
kebijakan pertama adalah soal larangan berambut gondrong yang berlaku di berbagai fakultas kampus kita, saya berpikir cukup lama kenapa persoalan rambut sampai mesti diatur sedemikian rupa, padahal rambut menurut saya tidak membawa nilai apapun yang berpengaruh besar bagi kemajuan keilmuan di dunia ini, saya tidak pernah mendengar seseorang tiba-tiba cerdas akibat memotong rambutnya dengan model tertentu, ditambah lagi rambut merupakan anggota badan yang dimiliki secara penuh oleh seseorang, masa ibu juga mau mengatur-ngatur itu, lantas dimana hak orang ttersebut untuk mengelola sesuatu yang dimilikinya sejak lahir sampai akhir hayatnya, dan yang paling membuat saya pusing adalah alasan pelarangan rambut gondrong yang pernah dikemukakan salah satu dosen difakultas saya saat acara penerimaan mahasiswa baru, dosen itu mengemukakan alasan diberlakukannya larangan gondrong karena saat gedung fakultas dibangun, para pekerjanya berambunt gondrong sehingga susah dibedakan dengan mahasiswa, mari kita sama-sama tertawa atas alasan itu bu.
kebijakan kedua adalah soal uang kuliah tunggal ( UKT) yang katanya adalah solusi bagi mahasiswa yang tidak mampu karena sistem subsidi silangnya, ditambah lagi mahasiswa hanya perlu satu kali membayar untuk mendapatkan fasilitas yang disediakan kampus, yang menjadi keganjilan adalah saat saya masuk kedalam laboratorium untuk mengikuti praktikum lalu disuruh membeli buku penuntun yang merupakan fasilitas proses ajar-mengajar, jreng, kemana uang UKT saya. pada saat praktek lapang juga saya menemukan hal serupa bu, alat untuk melakukan praktikum dilapangan mesti saya siapkan sendiri, jika tidak bisa meminjam karena teman tidak punya yah terpaksa harus menyewanya, biaya tranportasi untuk kelapangan saja mesti saya tanggung sendiri, terbayangkan bu berapa biaya yang mesti saya keluarkan untuk dapat melulusi suatu mata kuliah, jadi fasilitas apa yang dapat saya nikmati dari kampus kita ini bu ? untuk parkir kendaraan saja saya mesti bayar bu.
kebijakan ketiga adalah soal larangan jam malam, apakah ibu tahu alasan kami bermalam dikampus adalah karena kami menganggap kampus sebagai rumah kedua, walaupun sebagian mahasiswa rantau menganggapnya sebagai rumah pertama karena tidak mampu membiayai uang kost, masa ibu tidak mau bermurah hati kepada sebagian mahasiswa rantau ini ? tapi yang paling penting adalah karena di rumah kedua inilah kami dapat bertemu dan berkumpul bersama untuk melakukan kegiatan intelektual yang tidak sempat dilakukan pada pagi sampai sore hari dikampus karena penuh dengan kegiatan akademik, ibu sepakatkan sebagai mahasiswa kami harus mengetahui banyak hal guna memajukan negri ini, dan waktu paling tepat untuk mendiskusikannya adalah pada saat malam hari dimana kegiatan akademik sudah tidak ada lagi, itupun jika tidak ada tugas matakuliah. dimana lagi kami mesti berkumpul jika bukan dikampus yang mempertemukan kami ini ? masih adakah ruang publik yang dapat kami gunakan secara gratis dan layak jika bukan dikampus, dan tempat paling tepat bagi seorang intelektual adalah kampus.
keempat, ini belum menjadi sebuah kebijakan, baru sebatas rencana matang, soal kebijakan para pedagang kantin dikampus kita ini, saya mendengar dari banyak pedangang dikampus kita bahwa biaya sewa tempat akan dinaikkan, barang yang boleh dijual pun akan diatur oleh pihak pengelola, dan yang paling saya khawatirkan adalah larangan menghutang di kantin. sungguh ibu tega sekali membatasi kebaikan hati para pedagang kampus yang sering menyelematkan saya diakhhir bulan, ibu tahu sendirilah bagaimana kondisi keuangan mahasiswa rantau yang sering mengalami kebangkrutan sebelum pasokan dana segar baru masuk. pikirkan pula imbas kenaikan harga barang jika harga sewa naik yang akan berimbas pada daya beli mahasiswa terhadap barang, jangan sampai ada pedangang yang bangkrut.
mungkin sampai saat ini baru itusaja keresahan saya bu, yang juga merepukan bentuk kepedulian saya terhadap ibu, karena sukses tidaknya kampus kita pasti juga akan berpengaruh bagi kredibilitas ibu yang akan berguna suatu saat mungkin pada saat ibu mencalonkan menjadi seorang pejabat di negeri ini.
salam dari mahasiswa yang mencoba mencintaimu
Komentar
Posting Komentar