Rokok
sebagaimana saya istilahkan sebagai batang tembakau merupakan barang yang
identik dengan kaum adam, ada yang mengonsumsinya karena ingin melepas penat, menyegarkan otak,
dan adapula karena hanya terbiasa dan terbawa arus oleh lingkungan. Adalah hal
wajar bagi pria jika menghisap rokok, karena para penghisap
rokok memang didominasi olehkaum pria, sehingga menciptakan kesan bahwa merokok hanya milik kaum
pria.
Di
Indonesia pun tidak ada larangan keras untuk merokok, terakhir yang saya ketahui
Indonesia termasuk kedalam 3 negara penghisap rokok terbesar di dunia, dimana
Kuba menduduki posisi pertama. Produsen rokok di Indonesia memang sangat besar, kebutuhan masyarakat akan rokok
sudah semakin membeludak seiring berjalannya waktu. Ditambah lagi dengan
konsumen rokok bukan lagi didominasi oleh kaum adam tetapi seiring
berkembangnya zaman, kaum hawa telah semakin bartambah jumlahnya dalam hal
konsumen rokok.
Selanjutnya
timbul pertanyaan, bagaimana sih pandangan para kaum hawa mengenai
batang tembakau ini?. Walaupun tidak mewakili semua perspektif
tetapi hasil diskusi yang telah saya ikuti di akun Line grup Lipan,saya kira dapat menjadi refrensi kaum hawa dalam melihat
rokok, dimana
teman saya yg berdiskusi ini adalah kaum-kaum hawa.
Diawali
oleh teman saya yang bernama Wahyuni muhzar yang akrab disapa yuyun, membuka diskusi dengan memberikan pandangannya mengenai batang tembakau
dalam bentuk essay singkat berjudul “rapuhnya pandangan bahaya merokok” dimana
substansi atau intisari tulisannya adalah ingin memberikan pandangan berbeda
kepada kita, khususnya kaum hawa yang lain mengenai pahaman yang terpahami oleh
masyarakat banyak terkait kaum hawa yang merokok ternyata banyak yang keliru.
Logika pembuka diawali oleh pemberian bukti sesosok wanita lansia berumur 64
tahun bernama Sumiati yang telah mengonsumsi rokok sejak berumur 11 tahun dan
ternyata sampai sekarang dia tetap sehat walafiat. Teman saya ini juga mengaggap
bahwa banyak diantara masyarakat yang terjebak dalam fasisme pengetahuan.
Pahaman yang selama ini dipahami masyarakat mengenai wanita perokok hanyalah
kontruksi pahaman orang-orang terdahulu. Lanjut dari yang teman saya tuliskan
adalah dia mengaggap bahwa masyarakat pada umumnya dan telah membudaya di
negara kita yaitu terlalu mudah dan terlalu cepat menghukumi tanpa ada landasan
kebenarannya. Bahkan di akhir tulisannya teman saya ini mengatakan bahwa
“perokok pasif tigakali lebih berbahaya dari perokok aktif makanya bagi perokok
pasif pilih saja jadi perokok aktif biar gak beresiko, hahahaha”. Begitu
isi essaynya.
Datang
dengan retorika yang memukau dan logika yang mencengankan, sontak membuat teman-teman
perempuan saya yang lain tergugah untuk ikut berkomentar.
Saudari Asmaul Khusna
namanya, datang dengan retorika yang senada dengan saudari Yuyun. Ia menambahkan argumen pendukung
dengan mengatakan bahwa, kurang sepakat jika merokok itu menganggu kehamilan
dan janin, memang benar jika dalam rokok itu terkandung zat adiktif yang tingkat
bahayanya bagi kesehatan itu mencapai angka 40%, tapi wanita pada umumnyaa
hanya mengonsumsi rokok yang memiliki jumlah zat adiktif yang rendah,
tambahnya. Bahkan saudari Unna (begitulah ia akranb disapa) mengatakan bahwa
pernah disuguhkan rokok oleh seorang dosen perempuan di salah satu kantin
kampus tempat kami semua sedang melakukan studi sarjana. Dari sinilah
saudari unna berkesimpulan bahwa sebenarnya rokok tidak seburuk itu karena
seorang ibu dosen ingin memberinya rokok saat dikantin, dimana saudari unna menganggap
tidak mungkin seorang guru akan memberikan hal yang buruk bagi muridnya.
Selanjutnya,
dengan membawa mazhab empirikal sejati, teman saya yang lain bernama Nurlaela
Burhanuddin ikut berkomentar. Dan menariknya dia kontra dengan dua teman perempuan
saya yang sebelumnya. Datang dengan berdasarkan norma dan budaya serta logika
yang sederhana ia dengan gagah berani membantah beberapa argumen dua teman
wanita saya yang sebelumnya. Bantahan pertamanya dia layangkan kepada saudari
Unna dengan mengatakan “Anak remaja sekarang yg sedang mencari
jati dirinya harus berhat -hati
memilih kawan. Bagaimana tidak, narkoba serta bahan zat adiktif lainnya mengincar
mereka. Ketika ditawarkan permen atau minuman jangan langsung dikonsumsi, apa
lagi ketika yang menawarkan adalah orang yang baru saja kita kenal. Karena bisa
jadi itu adalah sejenis narkoba yang dapat membuat kita ketagihan. Bisa saja
saat itu mereka memberikan kita secara Cuma-cuma, tapi kalau sudah mencapai
batas ketagihan alias sakau? Kan gawat.
Sama dengan cerita dari saudari unna, rokok itu memiliki zat yang dapat membuat
kita ketagihan kurang lebih seperti itulah bahasanya. Kemudian
lanjut dengan bantahannya kepada saudari Yuyun dengan mengatakan “Oh iya, mau tanggapi juga
kalimat yg dari saudari yuyu n" perokok pasif tigakali lipat lebih
berbahaya dari pada perokok aktif, makanya bagi perokok pasif pilih saja
menjadi perokok aktif biar nggak beresiko?", nah siapa bilang nggak
beresiko? Selain merusak paru-paru kita,
kita membahayakan orang lain. Jadi tindakan dan solusi yang sebaiknya kita
lakukan itu memperingati para perokok untuk berhenti merokok biar sama-sama
aman :)”. Dengan dilandasi norma dan etika, begitulah dia
melayangkan komentarnya. Kemudian, kenapa saya mengatakan bahwa Lelabur (sapaan
akrabnya) bermazhab empiris sejati karena selalu meminta bukti empiris yang
didasari oleh penelitian ilmiah. Bahkan ia sampai mencari bukti penelitian
ilmiah di dunia maya untuk mendukung argumen bantahannya.
Tidak berhenti sampai disitu, datang teman saya yang
lajn bernama Ulfa Damayanti, berlandaskan epistemologinya, dia memberikan bukti
sejarah yang mengatakan bahwa “saya pribadi tidak memandang perempuan perokok sebagai
perempuan nakal, bahkan dengan melirik puluhan tahun yang lalu, nenek moyang
kita pun banyak yang merokok. Meskipun dengan berbagai pandangan miring yang
berkembang terhadap perempuan yang merokok, toh pada kenyataannya banyak juga
perempuan perokok yang kesehariannya bahkan menggunakan hijab dan berkomunikasi
layaknya wanita pada umumnya”. Begitulah persis yang ia katakan.
Komentar
ini awalnya saya anggap sebagai argumen terakhir dari diskusi, tetapi ternyata
tidak, walaupun datang terlambat tapi saya tetap ingin mengutip komentar dari teman
saya Yuliana Kopong, dengan bijak ia mengatakan “saya pribadi, tergantung masing-masing pribadi bagaimana cara kita
memandang fenomena wanita perokok ini . Seandainya saya nyaman dengan rokok pasti
saya juga merokokji”.
Dengan
melihat kutipan diskusi yang saya kemukakan di atas, kita dapat semakin
mengerti bahwa rokok sudah menjadi hal yang lumrah di kehidupan masyarakat
dimana bahkan kaum hawa pun juga dapat berbicara banyak terkait dengan batang
tembakau ini. Hal ini mengindikasikan bahwa perempuan-perempuan seperti teman
saya diatas adalah mereka yang mengerti dan pejuang emansipasi atau kesetaraan
gender yang dewasa ini semakin hangat dibicarakan publik. Pada dasarnya kita
sebagai lelaki sebaiknya tidak membatasi mereka, tidak menghalangi keemerdekaan
mereka untuk memilih apa yang mereka ingin lakukan. Tetapi, saya pribadi tetap
berharap bahwa apa yang kita lakukan mestinya tetap mengedepankan logika daan
etika dalam berperilaku. Semoga kalian paham apa yang saya maksud.
Jika
bisa sedikit menyimpulkan, saya hanya ingin mengatakan bahwa apa yang menjadi
permasalahan di atas haruslah kita melihat dari berbagai sisi, jika dilihat
dari sisi logika betul yang dituliskan saudari Yuyun dan Ulfa. Tetapi jika kita
melihat dan berlandaskan atas empirisme dan rasionalis sesungguhnya, tentulah
akan lebih sepakat dengan saudari Nurlaela, yang menginginkan bukti penelitian ilmiah.
Tetapi anda semua dapat menyimpulkan masing-masing dan memberikan penilaian
tersendiri terhadap perempuan perokok. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya
bahwa diskusi ini tidak memberikan kesan mewakili semua pandangan kaum hawa mengenai wanita perokok,
tetapi hanya bermaksud berbagi refrensi kepada siapapun yang membaca tulisan
ini. Terima kasih
diedit oleh : Fatwa faturachmat & Pettarani sastranegara
Komentar
Posting Komentar