Mahasiswa dan Hegemoni


Sejak kelahiran, setiap manusia dibelahan dunia manapun telah di anugrahkan Tuhan suatu kemerdekaan. Kemerdekaan bertindak, berbicara, berinteraksi dan lain sebagainya. Permasalahannya adalah begitu banyak manusia yang tidak pandai memanfaatkan anugrah Tuhan tersebut. Banyak di antara mereka yang mengubur kemerdekaannya sendiri, ada karena sengaja atau terpaksa dan ada karena mereka tidak sadar bahwa kemerdekaannya sedang dilucuti sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu.
Mereka yang dari jenjang balita sampai lansia masih tetap memiliki kemeredekaannya, tapi yang ingin saya katakana adalah bahwasanya masa muda adalah jenjang atau periode yang paling umum, dan waktu yang tepat dimana  seseorang memanfaatkan kemerdekaannya, dan secara tidak langsung saya bermaksud mengatakan bahwa kita sebagai kaum mahasiswa berada di periode itu, jenjang masa muda, waktu yang paling tepat memanfaatkan kemerdekaan kita adalah sekarang, waktu yang paling tepat menentukan jalan yang ingin kita lewati menuju tujuan hidup kita masing-masing (dalam tulisan ini, saya hanya akan memaparkan sedikit realitas kehidupan mahasiswa, belum mampu untuk menganalisa lebih jauh kehidupan pemuda pada umumnya).
Dewasa ini, hanya sedikit mahasiswa yang telah sadar akan kemerdekaannya. Kesadaran itu membuatnya melakukan sesuatu yang terasa ganjil di mata orang pada umumnya (awam). Tak jarang dari mereka yang telah sadar, melakukan hal yang terasa tidak masuk akal, padahal sebenarnya hal itu malah lebih masuk akal bagi orang-orang yang berpikir. Kemudian, sangat banyak mahasiswa yang telah terenggut kemerdekaannya, banyak diantara mahasiswa yang telah terhegemoni, terdominasi, dikuasai dan dibatasi pergerakannya oleh seseorang, kelompok ataupun pihak-pihak tertentu. Banyak yang secara sadar dan tidak sadar terdoktrinisasi oleh seseorang dan pola hidup orang-orang disekitarnya.
Sedikitnya ada empat hal yang menjadi sumber hegemoni mahasiswa (empat hal ini barulah hal-hal yang paling dekat bagi mahasiswa) yang akan saya kemukakan satu persatu.
Pertama adalah birokrasi/dunia akademik. Adalah hal yang paling besar pengaruhnya bagi mahasiswa yaitu pihak birokrat kampus. Hegemoni yang bersumber dari birokrasi termuat dalam kebijakan atau aturan-aturannya yang biasanya sangat mempengaruhi mindset mahasiswa. Ketakutan akan melanggar peraturan kampus membuat pergerakan mahasiswa menjadi sangat terbatas, betapa tidak, banyak peraturan kampus kini banyak yang “merugikan” mahasiswa. Saya tidak menyatakan harus ada perlawanan kepada pihak birokrat tapi saya hanya ingin menjelaskan bahwa realitas dunia akademik tidak seindah yang kita pikirkan. Banyak hal yang seharusnya tidak ada tapi diadakan, begitupun sebaliknya. Saya tidak ingin memaparkan hal-hal apa saja yang saya maksud, marilah kita sama-sama berpikir lebih dalam lagi terkait realitas dunia kampus. Tapi saya ingin mengungkapkan satu hal karena ini menurut saya sangat penting dan paling mempengaruhi gerakan mahasiswa, tidak lain dan tidak bukan yaitu nilai/penilaian. Percayalah nilai tidak menggambarkan kepintaran dan kecerdasan. Dominan dari nilai yang kita dapatkan, banyak yang tidak sesuai realita. Pemberian nilai oleh dosen saya anggap hanya permainan tebak-tebakan, tidak ada objektivitas penilaian dan kurangnya profesionalisme dalam hal penentuan nilai. Sekarang, mari kita merenungi beberapa pertanyaan yang saya pribadi belum menemukan jawabannya, apakah yang sebenarnya menjadi indicator bahwa mahasiswa itu dapat dikatakan pandai? Apakah mereka yang lulus dengan IPK tinggi sudah dapat dikatakan pandai? Atau sudah dapat dikatakan mahasiswa-mahasiswa berkualitas yang dapat mewujudkan harapan universitas dan masyarakat pada umumnya? Apakah mereka yang rajin datang dan rajin mengumpulkan tugas dapat dikatakan mahasiswa pandai?- coba kita sama-sama bertanya pada diri pribadi masing-masing.
  Dengan berpedoman pada nilai, pihak birokrat telah dapat membatasi gerak mahasiswa. Nilai rendah yang di dapatkan mahasiswa telah merubah mindset bahwa kedepannya harus lebih fokus dalam perkuliahan, akibatnya membatasi pergerakan mahasiswa dalam mengembangkan soft skill. Sangat banyak mahasiswa yang akhirnya terjebak dan sangat terpengaruhi (terhegomoni) dalam kasus ini, akhirnya kemerdekaan mereka dalam bertindakpun ikut terbatasi. Pihak birokrat telah memanfaatkan hal ini dan ironisnya banyak yang tidak menyadarinya. Pihak birokrat mengakan bahwa mereka yang memiliki nilai tinggi adalah mereka yang akan mencapai kesuksesan. Padahal faktanya? Kita sama-sama bisa menyimpulkan.
Kemudian yang kedua adalah organisasi. Nah inilah hal kedua yang sangat banyak juga mempengarhui tindakan dan perilaku mahasiswa. Seperti yang yang pernah saya katakan sebelumnya bahwa organisasi bukanlah keharusan tapi keniscayaan. Olehnya itu organisasi sangatlah penting dalam menunjang kesusksesan, akan tetapi sangat banyak mahasiswa malah terjerumus dalam lubang doktrinisasi --adalah benar bahwa dalam organisasi banyak indoktrinisasi--, doktrinisasi dalam organisasi memang jarang disadari tapi jika kita memikirkannya lebih dalam, kita akan menemukan anomalie atau kejanggalan yang tentunya cenderung berbau hal negatif. Saya bukannya melarang atau membatasi anda untuk ikut aktif berorganisasi, yang ingin saya sampaikan adalah tidak semua dalam organisasi itu baik, dan niscaya anda akan menemukan ketidakbaikan yang saya maksud. Banyak mahasiswa yang telah dikuasai pikirannya oleh organisasi sehingga mengesampingkan hal-hal lain yang juga penting bagi kehidupannya. Contoh paling sederhana dan salah satu paling hakiki yaitu pengaruhnya terhadap perkuliahan. Tidak sedikit di antara mahasiswa yang telah mengorbankan kuliahnya demi mencapai tujuannya di organisasi, implikasinya adalah keterlambatan penyelesaian studi. Kegiatan yang dilakukan dalam organisasi yang kadang tidak terlalu penting malah banyak yang dilakukan, aktor organisasi biasanya mengatakan semua ini adalah penting untuk kehidupan kedepannya. Penting? Coba kita bersama pikirkan lebih dalam, penting yang dimaksud apakah untuk kita atau untuk organisasi. Organisasi memang penting, tapi tidak semua dalam organisasi itu bermanfaat untuk diri sendiri. Hegemoni oleh organisasi memang sangat sukar untuk kita sadari, hanya orang-orang berpikirlah yang dapat memahaminya. Mereka yang terjerumus dalam lubang doktrinisasi ibarat seseorang yang sedang kasmaran, mereka akan terus menilai baik semua yang ada di organisasi layaknya mereka yang selalu mengindahkan semua perilaku dan karakter pasangannya.
Sumber hegemoni yang ketiga adalah pergaulan. Pergaulan yang saya maksud disini ada pergaulan ekstra kampus. Mahasiswa yang terhegemoni oleh pergaulan bisa dikategorikan dalam tipe mahasiswa hedon, apatis dan pragmatis. Bagi saya pribadi sumber hegemoni inilah yang paling berbahaya, karena cenderung 100% berefek negatif. Amati saja sekeling anda, mahasiswa yang terhegemoni oleh pergaulan biasanya tidak betah di kampus, selesai kelas kuliah mereka langsung menghilang entah kemana, mahasiswa yang terhegemoni oleh pergaulan dapat dikatakan tidak sedikit, karena setiap kampus dan setiap fakultas selalu saja ada mahasiswa yang beprilaku demikian. Faktornya banyak, diantaranya adalah masih terlalu terikat dan tidak dapat lepas dari pola hidupnya semasa mmasih duduk di bangku SMA, orang-orang sekeliling rumahnya atau orang-orang yang dekat dengannya masih banyak yang hobbynya hura-hura, dan faktor yang paling mendasar adalah mereka ini belum cukup dewasa untuk menatap masa depan yang begitu kompleks kerumitannya. Mahasiswa yang seperti ini biasanya jarang masuk ke kampus apalagi ikut dalam organisasi, mereka cenderung lebih egois yaitu memikirkan dirinya sendiri, dan cenderung pula tidak banyak bergaul dalam kampus, hanya orang-orang tertentu yang biasanya mereka ajak berinteraksi. Alasan saya mengatakan pada kalimat sebelumnya bahwa hegemoni ini paling berbaya karena banyak yang dikorbankannya hanya untuk memenuhi hasrat hidupnya. Mereka telah mengorbankan perjuangan orang tuanya untuk dapat membiayai studynya, adalah baik jika mereka berasal dari keluarga yang mampu, tapi pikirkan jika mereka berlatar belakang keluarga tidak mampu, penyelesaian study mereka besar kemungkinannya akan sangat terhambat, kurang memiliki teman dalam kampus, dan minoritas dari mereka adalah “pemakai” dimana yang dia korbankan adalah hidupnya sendiri.
Sumber hegemoni yang terakhir adalah cinta. Hal ini memang sedikit lucu, tapi percayalah kalian masih saja mendapati mahasiswa yang terlalu serius dalam hubungannya dalam menjalin kasih dengan lawan jenisnya. Mahasiswa terhegemoni oleh cinta maksudnya adalah mereka terlalu mengutamakan pasangannya, pikirannya dipenuhi oleh bayang-bayang wajah dan sifat kekasihnya atau orang yang dia cintai. Implikasinya adalah aktivitas kesehariannya terganggu seperti mengurangi interaksinya dengan orang lain, tidak fokus dalam kelas perkuliahan, kegiatan organisasi di abaikan jika pun ia berorganisasi, dan paling buruk adalah dia terlihat sangat lugu dan naif karena pikirannya yang hanya memikirkan si dia.
Itulah empat sumber hegemoni yang paling umum dalam dunia perkampusan, tapi harus kita ingat bahwa hegemoni itu barulah berasal dari luar, masih ada sumber hegemoni lain yang sulit untuk kita hindari yaitu hegemoni internal, yaitu dari dalam diri kita. Yang mungkin lain kesempatam akan saya share lebib lanjut. Sembari kita sama memikirkan apa saja hegemoni internal itu.
Memang benar bahwa hegemoni ini tergantung dari diri pribadi seseorang, tapi amtilah realitas yang ada, orang bodoh sampai orang yang dianggap pintar, dan berkarakter tetap selalu ada yang menghegemoni mereka. Artinya apa, bahwasanya pengaruh lingkungan sangatlah besar terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Mulai sekarang, cermatilah diri anda sendiri, sekiranya anda terhegemoni dari mana? Analisa diri anda dengan menengok keseharian anda dan juga dapat menganalisa orang-orang disekitar anda.
Mulai dari sekarang marilah kita lebih banyak berpikir bagaimana anda dikehidupan ini, apakah anda benar-benar telah menjadi manusia merdeka seutuhnya atau masih terjebak dalam jurang hegemoni, tanda bahwa anda telah merdeka adalah salah satunya setiap tindakan yang anda lakukakn betul-betul murni karena pilihan anda sendiri, bukan karena adanya intimidasi dari orang lain, tapi ingat, pilihan sendiri terkadang sangat sukar dibedakan dengan pilihan orang lain. Usahakan setiap tindakan kita sudah teranalisis dengan teliti, maksudnya adalah semoga kalian sadar atas apa yang kalian lakukan dan paham apa saja yang akan terjadi akibat dari tindakan anda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Menonton Tigertail

Setelah menonton film Mr. Nobody

Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa