Mahasiswa, Organisasi dan Demonstrasi (?)


Seperti judulnya, inilah ketiga hal yang tidak saling terpisah, baik itu bagi kaum mahasiswa sendiri maupun masyarakat pada umumnya yang paling tidak sudah dapat memahami hal ini. Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas apa itu mahasiswa, organisasi dan demonstrasi secara substansial tetapi saya ingin memberikan pandangan dari sudut pandang yang berbeda kepada pembaca, bagaimana kaitan dan hakikat hubungan ketiganya ini, yang dimana hubungan dari ketignya ini mendapat justifikasi yang keliru. Hal ini dikarenakan dewasa ini banyak terjadi multitafsir hubungan ketiganya ini, dimana seperti yang telah kita duga bahwa kebanyakan tafsirannya merujuk ke hal-hal yang negatif dan jauh dari hal yang sebenarnya.
Pertama bagaimana hubungan antara mahasiswa dan organisasi. Bagi kalangan mahasiswa adalah kejanggalan yang sangat besar bagi saya jika ada mahasiswa yang tidak mengenal apa itu organisasi dan tidak pernah bergelut di dalamnya. Tapi itu bukanlah suatu permasalahan besar, karena jika logika umum mengatakan mahasiswa yang tidak berorganisasi maka takdir kesuksesan akan jauh darinya, tapi realitas mengatakan tidak semuanya seperti itu, tidak sedikit juga mahasiswa-mahasiswa yang telah menyelesaikan studi di universitas tetap sukses sebagaimana jalan yang telah ia ambil.
Akan tetapi, ibaratnya sebuah jalan selalu ada jalan-jalan tikus yang dapat mempermudah kita sampai ke tujuan, dan itulah organisasi bagi mahasiswa. Memang bukanlah suatu keharusan untuk berorganisasi, tapi organisasi adalah keniscayaan. Artinya organisasi adalah jalan tikus, jalan atau wadah yang akan mempermudah meraih kesuksesan. Alasannya sederhana, organisasi mengajarkan kita lebih banyak wawasan yang tidak akan didapatkan di dunia perkuliahan, wawasan yang penting adalah bagaimana menjalani hidup sebagaimana mestinya, tempat dimana mereka (mahasiswa) belajar berpikir sebagaimana berpikir yang semestinya, tempat dimana mereka mendapat pandangan dan gambaran akan kompleksitas realitas kehidupan, dan salah satu yang terpenting adalah tempat dimana kita dapat mengoptimalkan dan mengeksplorasi kemampuan kita. Nah, permasalahannya adalah kebanyakan orang yang tidak memahami ini, banyak opini yang menyatakan organisasi hanya menjadi hambatan penyelesaian studi mahasiswa, anggapan ini pada umumnya banyak keluar dari mulut orang tua mahasiswa. Pada dasarnya saya sepakat akan hal ini karena realitas juga membenarkan itu, banyak kalangan mahasiswa yang terhambat penyelesaian studinya karena terlena dan terhegemoni dengam organisasi yang pada akhirnya harus mengorbankan kuliahnya demi kesibukan organisasi. Dalam hal inilah banyak kekeliruan yang terjadi, orang -orang terlalu banyak yang menyalahkan organisasinya padahal yang salah adalah aktornya. Banyak di antar aktor-aktor organisasi yang telah menyimpang dari konsep berorganisasi. Kondisi inilah yang lebih banyak terpahami oleh masyarakat banyak dan orang tua mahasiswa khususnya. Organisasi adalah wadah yang menyediakan segalanya, tinggal bagaimana mahasiswa untuk pandai memilah apa yang dibutuhkannya, dan saya yakin tidak semua yang organisasi sediakan akan menjadi kebutuhan sepenuhnya, selalu ada hal yang tidak kita “butuhkan”. Kelebihan yang paling hakiki dalam organisasi adalah mengajarkan kita apa yang tidak di dapatkan di bangku perkuliahan, dan tak kalah penting untuk diingat bersama adalah bahwa organisasi pada hakikatnya juga mengajarkan mahasiswa bagaimana merealisasikan ilmu-ilmu yang di dapat di dunia perkuliahan dalam kehidupan sosialnya. Inilah konsep ideal dalam berorganisasi yang telah banyak disalahmaknai oleh kebanyakan orang, yang bermasalah adalah orang-orangnya, bukan organisasinya.
Selanjutnya, mahasiswa dan demonstrasi. Inilah hubungan yang paling banyak terjadi kesalahpahaman dari masyarakat. Anggapan kebanyakan masyarakat mengatakan demonstrasi yang dilakukan mahasiswa tidak berguna, malah menimbulkan kerugian dalam berbagai hal. Lagi-lagi kita tidak dapat menyangkal hal itu, realitas kembali membenarkan itu. Hampir 90% aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa saat ini jauh dari apa yang diharapkan, menyimpang dari apa yang telah direncanakan, akibatnya menimbulkan kerugian dan memperburuk citra mahasiswa di mata publik, terlebih di tambah oleh pemberitaan media yang hanya mengekspos sisi negatif demonstrasi mahasiswa.
Demonstrasi adalah hal yang legal di negara ini, Indonesia adalah negara demokrtis dan membebaskan rakyatnya untuk menyuarakan pendapat, jadi adalah hal yang wajar ketika kaum mahasiswa menyuarakan pendapat melalui metode aksi demonstrasi. Dalam konsep sebenarnya, demonstrasi adalah langkah terakhir yang ditempuh dalam menyampaikan pendapat atau kritikan, setelah metode-metode yang lain sudah tidak memberikan hasil yang diharapkan bersama. Mahasiswa melakukan aksi demonstrasi  (apalagi sampai turun ke jalan) telah melalui proses yang panjang, telah melalui analisis mendalam sebelum dilakukannya aksi, yang lazim kita sebut sebagai konsolidasi. Hal ini yang banyak tidak diketahui masyarakat luas. Adapun mahasiswa yang sampai harus chaos atau bentrok dengan aparat keamanan, juga telah melewati proses analisis mendalam, bentrok biasanya terjadi jika demonstrasi yang dilakukan mahasiswa tidak mendapat perhatian khusus oleh pihak yang terkait, umumnya pemerintah. Bentrok pada umumnya adalah rekayasa, hal itu sengaja dilakukan, semuanya telah diatur dalam perencanaan yang matang (namun untuk beberapa kondisi hal ini memang spontan terjadi tergantung dari situasi dan kondisi). Konsep ideal inilah yang banyak melenceng ketika sudah di lapangan, banyak yang menyalahi konsep, banyak yang menyimpang dari rencana yang telah dibuat sebaik-baiknya, yang pada akhirnya demonstrasi mahasiswa yang seyogianya menjadi jalur penyampaian pendapat akhirnya hanya menjadi permainan belaka.
Demonstrasi bukanlah hal yang harus dilakukan oleh mahasiswa, bukan pula keniscayaan, demonstrasi lahir karena keterpaksaan. Mahasiswa tanpa demonstrasi malah lebih baik. Pergulatan ide jauh lebih baik dari pergulatan fisik.

Hubungan antara mahasiswa, organisasi dan demonstrasi selalu memiliki konsep yang baik, akan tetapi karena aktor di dalamnya yang telah banyak menyalahi konsep akhirnya menciptakan citra yang buruk bagi kalangan mahasiswa dan organisasi. Ketiga hal ini ibarat suatu ekosistem, yakni saling terikt satu sama lain dan tidak dapat dilepas pisahkan, walaupun begitu kita tetap masih memiliki ruang untuk mengontrol system ini agar tetap berjalan sesuai koridor yang kita harapkan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Menonton Tigertail

Setelah menonton film Mr. Nobody

Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa