Takut akan kenyamanan
judul tulisan saya yang pertama ini mungkin terlihat bernada kegelisahan yang tak berujung,singkat cerita kenapa saya menulis tulisan takut akan kenyamanan didasari akibat pembelajaran saya tentang filsafat yang sering kali terdengar sebagai hal yang rumit. pembelajaran saya tentang filsafat mengantarkan saya kepada pola pikir ataupun sudut pandang akan kehidupan yang ingin terus mengkritik kejadian (realitas) yang ada di sekitar saya,dan mencari solusi terbaik,filsafat mengajarkan saya untuk terus mempertanyakan sesuatu yang ada di sekitar saya baik dalam cakupan yang luas maupun sempit,hal ini bertujuan untuk menyadari apakah sesuatu itu sudah semestinya seperti itu ataukah hal sesuatu itu sedang tidak semestinya. karena apa yang dicari oleh filsafat adalah hakikat untuk mencapai hikmat.
kenapa mesti takut akan kenyamanan ?
mungkin pertanyaan inilah yang terbesit pertama kali saat membaca judul tulisan ini,maka dari itu saya akan menjawabnya. kenyamanan yang berlangsung baik dalam jangka waktu yang singkat maupun panjang akan membuat nalar kritis kita berkurang intensitas kekritisan nya,jika hal ini terjadi maka kita tidak menyadari sesuatu yang tak semestinya (kesalahan) yang terjadi di sekitar kita,sehingga hal ini membuat kita akan larut dalam kesalahan tanpa menyadari sesuatu itu adalah kesalahan. jika kita tinjau dari sudut agama maka hal ini sangatlah merugikan karena berbuat salah sering kali mendapat ganjaran dosa dalam ajaran agama karena hal ini dipandang merugikan diri sendiri,orang lain,dan lingkungan. salah satu ajaran agama,entah apapun agama nya pastilah mengajarkan bahwa dosa haruslah ditebus dengan pertanggung jawaban yang setimpal,baik itu di dunia maupun di alam setelah dunia. pastilah kita tak ingin membuat kesalahan karena jika itu menuntut pertanggung jawaban yang pertama terjadi adalah tersitanya waktu kita,hal ini pun akan membawa rasa kegelisahan dalam diri sendiri tapi,dengan catatan hal ini bisa terjadi jika anda keluar dari kenyamanan untuk membangkitkan kembali nalar kritis anda. kenyamanan juga akan membuat kita malas,dimana kenyamanan memaksa kita untuk terus melakukan kegiatan yang hanya itu itu saja dan mengetahui itu itu saja,pastilah kita juga akan merugi jika hanya berputar di hal yang itu-itu saja. sedangkan banyak hal di dunia ini yang perlu dimaknai dan ditolong baik itu dalam kesusahan maupun keberuntungan,tidaklah merugi jika kita dapat memaknai dan menolong apa yang ada di sekitar kita karena hal itu dapat mendatangkan kebahagian,apalagi jika dipandang dari tinjaun sosial kedua hal diatas adalah sebuah kewajiban dimana manusia yang tak bisa hidup tanpa adanya manusia lain,dan memerlukan interaksi dengan manusia lain untuk memudahkan tercapai nya sebuah tujuan maka,kedua hal diatas merupakan sebuah tanggung jawab sosial. kenyamana juga dapat membuat kita menjauh dari fitrah kita yaitu rasa ingin tahu,manusia memiliki rasa ingin tahu yang tak terbatas agar mengantar dirinya menjadi manusia yang berpengetahuan sehingga dapat berbuat bijak selama hidupnya. singkat kata kenyamanan dapat memudarkan sisi kemanusian kita yang semestinya.
karena itu saya memandang takut akan kenyamanan sangatlah perlu untuk membuat kita ingin keluar dari zona nyaman yang mempunyai potensi merugikan diri sendiri maupun orang lain. takut akan kenyamanan juga akan memaksa kita untuk terus mengoreksi setiap prilaku yang kita lakukan apakah sudah benar atau belum. sehingga hal ini akan menghasilkan solusi terbaik bagi diri sendiri maupun orang lain,dan yang paling penting adalah membuat kita menjadi manusia yang seutuhnya. karena dari itu untuk menutup tulisan ini saya ingin menuliskan salah satu kalimat yang penuh makna dari Buya Hamka, "Jika hidup sekedar hidup,babi di hutan juga hidup,kalau bekerja sekedar bekerja kera juga bekerja".
kenapa mesti takut akan kenyamanan ?
mungkin pertanyaan inilah yang terbesit pertama kali saat membaca judul tulisan ini,maka dari itu saya akan menjawabnya. kenyamanan yang berlangsung baik dalam jangka waktu yang singkat maupun panjang akan membuat nalar kritis kita berkurang intensitas kekritisan nya,jika hal ini terjadi maka kita tidak menyadari sesuatu yang tak semestinya (kesalahan) yang terjadi di sekitar kita,sehingga hal ini membuat kita akan larut dalam kesalahan tanpa menyadari sesuatu itu adalah kesalahan. jika kita tinjau dari sudut agama maka hal ini sangatlah merugikan karena berbuat salah sering kali mendapat ganjaran dosa dalam ajaran agama karena hal ini dipandang merugikan diri sendiri,orang lain,dan lingkungan. salah satu ajaran agama,entah apapun agama nya pastilah mengajarkan bahwa dosa haruslah ditebus dengan pertanggung jawaban yang setimpal,baik itu di dunia maupun di alam setelah dunia. pastilah kita tak ingin membuat kesalahan karena jika itu menuntut pertanggung jawaban yang pertama terjadi adalah tersitanya waktu kita,hal ini pun akan membawa rasa kegelisahan dalam diri sendiri tapi,dengan catatan hal ini bisa terjadi jika anda keluar dari kenyamanan untuk membangkitkan kembali nalar kritis anda. kenyamanan juga akan membuat kita malas,dimana kenyamanan memaksa kita untuk terus melakukan kegiatan yang hanya itu itu saja dan mengetahui itu itu saja,pastilah kita juga akan merugi jika hanya berputar di hal yang itu-itu saja. sedangkan banyak hal di dunia ini yang perlu dimaknai dan ditolong baik itu dalam kesusahan maupun keberuntungan,tidaklah merugi jika kita dapat memaknai dan menolong apa yang ada di sekitar kita karena hal itu dapat mendatangkan kebahagian,apalagi jika dipandang dari tinjaun sosial kedua hal diatas adalah sebuah kewajiban dimana manusia yang tak bisa hidup tanpa adanya manusia lain,dan memerlukan interaksi dengan manusia lain untuk memudahkan tercapai nya sebuah tujuan maka,kedua hal diatas merupakan sebuah tanggung jawab sosial. kenyamana juga dapat membuat kita menjauh dari fitrah kita yaitu rasa ingin tahu,manusia memiliki rasa ingin tahu yang tak terbatas agar mengantar dirinya menjadi manusia yang berpengetahuan sehingga dapat berbuat bijak selama hidupnya. singkat kata kenyamanan dapat memudarkan sisi kemanusian kita yang semestinya.
karena itu saya memandang takut akan kenyamanan sangatlah perlu untuk membuat kita ingin keluar dari zona nyaman yang mempunyai potensi merugikan diri sendiri maupun orang lain. takut akan kenyamanan juga akan memaksa kita untuk terus mengoreksi setiap prilaku yang kita lakukan apakah sudah benar atau belum. sehingga hal ini akan menghasilkan solusi terbaik bagi diri sendiri maupun orang lain,dan yang paling penting adalah membuat kita menjadi manusia yang seutuhnya. karena dari itu untuk menutup tulisan ini saya ingin menuliskan salah satu kalimat yang penuh makna dari Buya Hamka, "Jika hidup sekedar hidup,babi di hutan juga hidup,kalau bekerja sekedar bekerja kera juga bekerja".
Komentar
Posting Komentar