Pendidikan tahap sebelum Bekerja
Dalam tulisan ini saya berbicara dalam konteks pendidikan formal di indonesia. Tentu kita sudah tak asing lagi dengan pandangan yang melihat pendidikan sebagai suatu tahapan sebelum bekerja,pendidikan dipandang sebagai tempat menampung keahlian untuk dipakai bekerja,pendidikan formal dipandang sebagai alat verifikasi dalam melamar kerja. Apakah memang sudah semestinya pendidikan hanya seperti itu ? Mungkin kita akan menjawab dengan kata TIDAK,karena pendidikan adalah tempat transformasi ilmu untuk diri sendiri maupun orang banyak,dunia pendidikan adalah tempat seorang murid diberi tak hanya satu keahlian,tempat seorang murid menemukan kebenaran dan tujuan hidupnya,tempat seorang murid merealitas dan bersosialisasi,dan yang paling penting adalah tempat seorang murid berdialektika dengan gurunya untuk mencari sebuah kebenaran. Jika melihat pandangan diatas tentang esensi dari pendidikan,lantas mengapa pendidikan masih dipandang hanya sebuah tahapan sebelum ke dunia kerja ? Ini dikarenakan menjauhnya esensi pendidikan dari praktek pendidikan,hal pertama yang patut dicurigai bahwa pendidikan mungkin saja dijadikan suatu tempat produksi para pekerja baru bagi suatu perusahaan,contoh nya saja ijazah dari hasil menempuh pendidikan dijadikan syarat mutlak untuk melamar kerja,dimana ijazah belum tentu menggambarkan kemampuan seseorang. Hal ini sangat merugikan bagi orang yang mempunyai keahlian tapi tak punya ijazah karena tak sempat merasakan pendidikan formal karena faktor ekonomi,dimana dunia pendidikan kini juga mulai dikomersilkan kepada para pelanggan nya yang suka berjajan seragam,alat tulis,buku panduan,ataupun sekedar hanya isi perut. Bukankah hal ini akan memperkokoh status quo dalam masyarakat karena hadirnya pendidikan sebagai alat penjaga stabilitas nya. Kerap kali juga para pendidik menempatkan dirinya sebagai sebuah sumber kebenaran dihadapan para murid, seakan tak ada cela dalam dirinya maupun dengan apa yang dia sampaikan, hal ini sangatlah berbahaya bagi pemikiran murid yang akan terbentuk, karena pemikiran yang akan terbentuk berupa menerima mentah apa saja yang dikatakan benar oleh sang guru sehingga matinya dialektika, murid pun akan menganggap realitas sebagai sesuatu yang sudah semestinya seperti itu dan apa yang sudah berlangsung sekarang merupakan hal yang wajar. Maka pantas saja jika murid tidak berpikir dirinya adalah sesuatu yang baru dan dapat melakukan hal baru di dunia,si murid hanya akan berpikir dirinya adalah penerus yang sudah ada,dan yang sudah ada itu normal normal saja. Maka corak zaman akan terus terlihat sama ketika pendidikan dijadikan sebuah reproduksi sosial. Bukankah pendidikan seharusnya menghasilkan sebuah manusia yang sebenarnya yang dapat menciptakan dan merubah sejarah, bukan manusia yang menindas manusia lain untuk mengikuti kemauannya sendiri.
Komentar
Posting Komentar