Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Hari hari penuh kecemasan

Seorang pengajar dalam grup pesan singkat menuliskan pesan semangat agar kuat menghadapi situasi wabah corona. Pesannya dimulai dengan kalimat yang kurang lebih berbunyi "kita tidak pernah membayangkan keadaan akan seperti ini....".  Seketika tangan saya gatal untuk membalas pesannya, saya mulai mengetik pesan "sebenarnya sudah terbayang sejak pemerintah ngotot tidak mau menutup akses masuk dari luar". Namun saya urungkan untuk mengirim balasan itu. Saya tidak ingin menjadi perhatian seantero grup hanya karena membantahnya, yang sebenarnya itu sah-sah saja.  Sejak China dan kota Wuhan-nya menjadi tajuk berita utama karena melakukan isolasi, hampir seluruh orang yang membaca dan memahami dengan baik isi berita itu  saya yakin mulai merasa cemas. Penyebarannya sangat cepat, manusia adalah perantara sekaligus targetnya.  Beberapa negara yang sadar akan lemahnya sistem medis mereka melakukan pelarangan masuk ke negeranya secepat mungkin. Di negara kita, pemerintah melal...

Soda gembira dan empati yang mengendap

Seharusnya sejak pagi saya sudah ada di tempat pembuangan akhir (TPA) Tamangapa, Antang. Tapi karena saya ketiduran, siang baru kami berangkat ke sana.  Sesampainya di TPA, akhirnya saya bisa melihat bukit-bukit yang tesusun dari tumpukan sampah. Pemandangan yang selama ini hanya saya lihat melalui gambar di internet.  Diawali dengan menyampaikan maksud kedatangan kami kepada petugas setempat yang untung saja memberi respon memudahkan tujuan kami. Setelah melihat-lihat kondisi TPA, saya dan seorang kawan menarget seorang bapak untuk diwawancarai.  Bapak itu kami pilih karena sedang tidak bekerja, dia baru saja menyelesaikan makan siang tepat di atas tumpukan sampah dan dipayungi terpal berwarna biru dari teriknya matahari. Kami menggali kisahnya yang sudah setua usia operasi TPA. Bapak inilah generasi pertama pemulung di TPA.  Kami mendengar banyak cerita soal aktivitas dan pengalaman memulungnya. Mulai dari hari liburnya di hari jumat karena ada aktivitas salat juma...

Tangkapan layar itu

Hari ini saya terbangun dalam keadaan panik, karena kuliah daring sudah dimulai. Dengan kondisi penglihatan yang masih buram, saya segera mengambil telepon pintar dan segera membuka grup WA. Sontak cahayanya membuat mata saya sakit, saya menahannya lalu beralih membuka materi yang dikirim dosen di grup WA.  Saat membaca materi, saya sempat tertidur. Ketika sadar kembali dan menatap layar telepon, tampilan yang muncul adalah galeri foto di cloud . Entah apa yang tangan saya lakukan saat tertidur sejenak tadi.  Karena jarang dibuka, saya tertarik untuk melihat foto apa saja yang pernah saya cadangkan di cloud . Ternyata di antara tumpukan foto itu ada tangkapan layar berisi pesan singkat antara saya dan dia. Dia yang pernah menjadi sang pujaan.  Membaca pesan di tangkapan layar itu membawa saya pada ingatan lama yang menghadirkan kegembiraan. Melihatmu mengungkapkan cemburu membuat saya merasa ada dan tidak sendirian.  Saat itu saya ingin menggugat Heidegger, bahw...

Shit. here we go again

Taik, lagi-lagi saya harus mengulang ini. Kembali menemukan diri dalam kondisi yang paling tidak diinginkan berdasarkan kehendak sendiri adalah defenisi paling tepat untuk menjilat ludah sendiri. Saya baru saja melakukannya untuk kesekian kali. Sungguh, saya sebenarnya tidak ingin melakukannya. Tapi melihat orang-orang di sekitar selalu mengeluh tentang kondisi yang terjadi tanpa pernah benar-benar memikirkan apa akar masalahnya membuat saya jengah.  Dengan penuh berat hati dan tidak ingin terus risih mendengar keluhan mereka, sekali lagi saya ikut campur untuk menunjukkan bagaimana menggunakan metode analisis akar masalah. Hingga larut dalam kesenangan menyelesaikan masalah.  Kesenangan yang acap kali membuat saya lupa diri.  Kini, saya lelah untuk terus mengatakan "saya tidak blablabla". Karena perkataan itu sering berbalik menimpa saya seperti yang tertulis di awal. Sampai pada kesimpulan saya tidak ingin banyak bicara, eh, ternyata masih saya tidak. Saya ralat, yang b...