Keserakahan Laki - laki terhadap rokok

Rokok dan seorang lelaki mungkin sudah terlihat sebagai hal yang lumrah, tapi bagaimana jika perokok itu adalah seorang perempuan ?
maka tulisan ini akan bercerita soal pengalaman pribadi saya terhadap pertanyaan diatas, oleh dari itu saya ingin meminta maaf pada teman teman ku yang tak sempat aku beritahu mereka akan masuk sebagai aktor dalam tulisan ku ini, permintaan maaf ini penegasan terhadap dosa jika dikemudian hari kalian menganggap yang saya tulis ini merupakan sebagai salah satu perbuatan yang berdosa.

jadi pada malam itu saya sedang merokok bersama teman perempuan saya di teras rumah, kami berdua menikmati rokok yang memberikan kenikmatan yang kata para pecinta rokok, merokok membawa ketenangan, dan membantu dalam aktivitas berpikir itu, jika anda menganggap ini hanya sebagai sugesti belaka maka saya sarankan anda untuk berkenalan dengan para filsuf yang seorang pemikir besar sekaligus perokok berat, yang mungkin ini hanya dalih dari saya saja. tapi percayalah saya merasakan cinta terhadap tembakau di setiap isapan rokok di tangan saya.

cukup dalih saya soal rokok, mari kita lanjutkan dengan cerita saya, beberapa saat kemudian datanglah seorang teman lelaki saya dan mengambil rokok dari tangan teman perempuan saya itu, teman lelaki saya itu menunjukkan mimik wajah ketidak sukaan nya terhadap seorang perempuan yang merokok, tapi teman lelaki saya ini tidak berkata sepata kata pun hanya menunjukkan mimik wajah kesal saja. saya pun terheran heran dengan sikap teman lelaki saya ini,keegoisan apa yang coba dia tunjukkan dari tindakan nya itu, atau justru tindakan nya hanya sebuah refleks belaka karena fikiran nya yang sudah terkonstruk bahwa perempuan yang merokok adalah perempuan nakal, atau sebut saja kita menganggap nya seorang psk. tapi teman perempuan saya ini bukanlah seorang psk, dia hanya perempuan yang coba menghapuskan budaya patriarki yang terus menempatkan derajat perempuan di bawah seorang lelaki, budaya yang memaksa perempuan tertunduk lemah di hadapan norma,moral,ataupun nilai yang kita anut secara sepihak tanpa adanya kesepakatan.

sudah tidak sepantasnya lagi kita menganggap derajat perempuan lebih rendah dari seorang lelaki, karena yang membedakan adam dan hawa hanyalah yang satu punya rahim dan yang satu tidak. justru pemahaman pendek saya mengatakan bahwa lelaki haruslah menaruh hormat pada seorang perempuan yang darinya lelaki mendapat keturunan. bukan dengan cara memperlakukan atau melarang perempuan tanpa alasan yang rasional tapi hanya mengedepankan rasa ketidaksukaan saja lantas menghalalkan raca merampas untuk melarang seorang perempuan. lanjut cerita saya pun langsung bertanya kepada teman lelaki saya apa alasan nya merampas rokok teman perempuan saya, teman lelaki saya ini hanya cengengesan saja tanpa mengungkapkan alasan nya, sontak saya pun meminta teman lelaki itu untuk mengembalikan rokok teman perempuan saya, setialah agak lama saya terus menyerangnya dengan pertanyaan apa alasan nya mengambil rokok milik teman perempuan saya, yang terus saja tidak dijawabnya, akhirnya dia mau juga mengembalikan rokok milik teman perempuan saya itu.

ego laki - laki sering kali muncul ketika menganggap sesuatu hal hanya diperuntukkan untuk lelaki saja, padahal apa suatu aktivitas di dunia ini yang memang sudah menjadi hakikat seorang lelaki di muka bumi ini, pengetahuan pendek saya beranggapan hanyalah membuahi sel telur di dalam rahim perempuan lah yang memang menjadi sepenuhnya hak dan kewajiban seorang lelaki, jika ada perempuan yang mampu membuahi sel telur perempuan maka saat itulah kaum lelaki untuk memprotes ketidakadilan. sudah cukup banyak fenomena di muka bumi ini yang seharusnya menyadarkan kita bahwa perempuan adalah mahluk yang sederajat dengan laki - laki, contohnya saja marak kaum perempuan di instagram yang memamerkan otot mereka yang besar dari hasil ngegym.

jika kalian menganggap merokok sepenuhnya memang buruk cukup dengan menunjukkan tinjauan medis nya saja. tidak usah memakai logika ekonomi nan konyol yang beranggapan merokok sangat boros dan uang membeli rokok dapat di tabung untuk membeli mobil ataupun rumah, sedangkan anda sendiri masih suka bertawaf di pusat pasar gaya hidup untuk memenuhi hasrat anda yang hanya keinginan akan citra belaka. jika anda juga menggunakan fatwa haram rokok mungkin anda perlu mempelajari bagaimana perang industri tembakau di indonesia,sebagaimana hanya indonesia saja yang mampu memproduksi tembakau begitu besarnya hingga dapat memenuhi devisa negara. dan agaknya jika belum cukup anda perlu bertanya pada Cak Nun yang seorang ulama (jika bisa saya mengatakanya begitu) dan seorang perokok juga.

untuk menutup tulisan ini saya ingin mencoba mewakili perkataan salah seorang penggiat gusdurian bahwa kita" perlu mengedepankan dialog untuk memelihara kerukunan".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Menonton Tigertail

Setelah menonton film Mr. Nobody

Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa