Mengendap Dalam Nasi Padang

Pekanbaru, kota tempat perkenalan pertama saya dengan masakan minang. Kala Mama sedang tidak sempat memasak karena sibuk, nasi padang menjadi alternatif, hampir selalu menjadi pilihan utama.

Semenjak pindah dari Pekanbaru, susah mencari rasa nasi padang yang benar-benar otentik di daerah lain, terutama di Makassar. Rasanya yang khas selalu membuat ingin memakannya lagi untuk kesekian kali.

Akhir-akhir ini saya selalu ingin makan nasi padang, saya pikir ini hanya karena cita rasanya saja, ternyata ada kondisi tertentu dan kenangan indah yang mengendap bersama nasi padang.

Tertinggal di Pekanbaru
Saya tidak begitu ingat rinci kejadian momen bahagia bersama keluarga sebelum saya memasuki masa pubertas. Belakangan saya coba menelisiknya, yang bisa saya ingat semuanya terjadi di Pekanbaru.

Kala itu keluarga masih terasa hangat, saya masih akrab dengan adik laki-laki, kawan sepermainan masih suka bertualangan, adik perempuan masih sangat lucu dan mempersatukan kami sekeluarga.

Kemanapun kami pergi untuk berlibur atau berakhir pekan, seluruh anggota keluarga ikut serta, mama, bapak, saya, adik laki-laki, dan adik perempuan. Saya merayakan ulang tahun dengan makan di luar, melewati malam minggu dengan nongkrong sambil makan jagung depan MTQ, berolahraga minggu pagi di halaman perpus kota, belanja bulanan di hypermart mall SKA, semuanya dilewati bersama keluarga.

Kami sekeluarga sepakat bahwa nasi padang adalah makanan paling enak, kami bisa keluar hanya untuk makan nasi padang langsung di warung. Saya paling suka kala bapak mengucap kata hidang pada pelayan, artinya kami tidak perlu memilih lauk, semua lauk yang ada akan dihidangkan di atas meja, kami tinggal mengambil mana suka.

Di Pekanbaru juga momen paling egaliter satu-satunya dalam keluarga kami pernah terjadi. Kala itu bapak baru pulang kerja, "semuanya kumpul, kita rapat" ujar bapak. Dari dalam tas kerjanya dia keluarkan amplop yang berisi tawaran surat pindah ke Sorowako, lalu bapak meminta pendapat kami semua bagaimana kalau dia menerima tawaran itu dan kami pindah tempat tinggal di Makassar. Saat itu saya merasa kehadiran saya dalam keluarga sangat berarti.

Menggali Endapan di Makassar
Saat pindah ke Makassar, kami tidak tinggal bersama lagi, bapak harus menetap di Sorowako sendirian. Kami beradaptasi dengan lingkungan baru bersama Mama, keadaan yang menyadarkan saya bahwa Mama sangat tangguh dan juga kelelahan mengurus ketiga anak hanya sendirian.

Bapak hanya pulang sesekali, kadang tiap dua bulan, kadang bisa lebih lama. Kehidupan di Makassar lebih berat dari Pekanbaru, kami melalui proses adaptasi itu dengan berat, sayangnya kami tidak melaluinya bersama-sama. Semua kebersamaan lenyap di Makassar dan keluarga kami tidak lagi pernah sama.

Sebelum keluarga pindah ke Jakarta dan meninggalkan saya sendiri di Makassar, kami pernah pergi makan di warung padang, tepatnya di perbatasan Makassar-Maros, itu kali terakhir kami makan nasi padang bersama. Semua jenis lauk terhidang di atas meja mengingatkan akan nuansa warung padang asli, juga akan kenangan di Pekanbaru.

Sekarang warung padang itu sudah tidak ada lagi, keluarga kami yang suka berkumpul di warung nasi padang juga tidak ada lagi.

Baru setahun terakhir saya mulai suka makan nasi padang lagi, setahun terakhir juga saya mulai intens berkomunikasi dengan keluarga, selain karena pandemi yang mengharuskan kami untuk terus saling memantau kondisi satu sama lain, juga karena saya mulai merasa lelah tidak kunjung menyelesaikan kuliah dan butuh dukungan moral.

Semua itu mengarahkan saya pada keluarga dan keluarga itu kini mengendap dalam nasi padang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Menonton Tigertail

Setelah menonton film Mr. Nobody

Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa