Belajar untuk berkolaborasi

Saya berkuliah di fakultas yang merupakan ilmu terapan, itu berarti dasar-dasar ilmunya diambil dari ilmu lain untuk dikonsentrasikan mendalami satu bidang. Nah bidang ini cakupannya luas, jadi butuh banyak ilmu lain untuk menjalankannya. 

Misal, untuk menjelaskan hewan dan tumbuhan yang ada dalam cakupan kerja bidang ini diperlukan ilmu ekologi yang diambil dari ilmu biologi. Untuk menjelaskan kerja alam dalam bidang ini perlu ilmu fisika, untuk menjelaskan efisiensi dan efektivitas produksi butuh ilmu teknologi, manajemen, dsb. 

Intinya untuk bisa menjalankan bidang ini dengan baik perlu mengkomparasi ilmu-ilmu yang sudah ada. Ilmu dalam sejarahnya selalu berkelindan dengan ilmu lain. Pelacakan ilmu sebelum menjadi cabang-cabang akan mengarah ke filsafat sebagai induk dari segala ilmu. 

Saat masih semester awal saya gemar belajar filsafat karena punya banyak tenaga untuk bersikap cuek pada aktivitas belajar wajib saya yang lain. Sama seperti orang lain yang sedang keranjingan dengan hal baru, saat itu saya hanya belajar filsafat saja. Karena hanya fokus belajar satu ilmu saya menjadi fanatik, saat itu saya merasa ilmu filsafat yang paling penting dan paling benar. Ilmu lain hanya remah-remah saja. Singkatnya saya menjadi orang yang takfiri terhadap ilmu lain. 

Seiring waktu saya sadar sedang tidak hidup di era Yunani kuno, era saya hidup kini punya permasalahan lebih kompleks. Untuk menyelesaikan serangkaian permasalahan itu butuh banyak ilmu-ilmu lain yang lebih spesifik untuk bisa dijadikan suatu pembahasan yang holistik. Sayapun tersadar bahwa selama ini saya salah memahami filsafat dan sama sekali tidak mendekati menjadi orang yang bijak.

Saya mulai kembali masuk ke ruang-ruang ilmu yang wajib dipelajari selama berkuliah di fakultas ini. Bukan hanya karena sadar saya perlu belajar ilmu selain filsafat, juga karena terpaksa agar tidak drop out.

Alangkah jengkelnya saya ketika masuk dalam ruang kelas mendengar banyak pengajar yang mengeluh-eluhkan ilmu yang diajarkannya seolah ilmu paling penting, paling berdampak luas, dan segala macam sesumbar lainnya. Seketika saya ingat diri saya yang lama, saat saya merasa dengan hanya filsafat Yunani Kuno dapat menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada di muka bumi. 

Pandangan para pengajar itu berimplikasi pada tingginya standar kelulusan yang dipatok dan memberi sedikit sekali toleransi bagi yang sulit mengerti ilmu yang diajarkannya. Persis ketika saya suka mengajak orang-orang di sekitar saya untuk belajar filsafat, mereka yang tidak mau belajar dan sulit mengerti selalu saya cap sebagai seorang pemalas dan tidak peduli. Seperti para pengajar itu mencap saya kini. 

Kembali mengingat penjelasan ilmu terapan di awal, fakultas ini cakupan bidangnya luas, ilmu yang diajarkannya banyak. Dalam satu semester setidaknya saya harus menjalani 6 mata kuliah secara bersamaan selama kurun waktu 16 minggu, ditambah 1 minggu untuk ujian akhir. 

Bayangkan setiap minggu dituntut untuk menguasai 6 ilmu yang berbeda, tanpa diberi pemahaman tentang pentingnya nilai kolaborasi antar ilmu yang sebenarnya saling berkelindan. Wajar saja jika ilmu yang diajarkan hanya menjadi sekadar hafalan kala ujian tiba. 

Saya merasa cukup beruntung karena punya pengalaman menjadi takfiri lalu tersadar bahwa fanatisme itu seperti membutakan sebelah mata. Di sela kecemasan tidak bisa menguasai seluruh ilmu berakibat pada tidak melulusi mata kuliah, saya sadar tempat saya berkuliah ini cakupan bidangnya sangat luas, jika orang-orang yang ada dalam bidang ini sukanya sesumbar ilmu yang didalaminya yang paling penting, permasalahan di bidang ini tidak akan selesai. 

Saya jadi tahu bidang ini punya permasalahan mendasar soal pentingnya kolaborasi dan komprehensif untuk menyelesaikan masalah. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Menonton Tigertail

Setelah menonton film Mr. Nobody

Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa