Akhir Semester
Kuliah kini memasuki masa akhir semester.
Beberapa minggu lagi, saya dan mungkin kalian akan memasuki masa-masa penuh kecemasan. Cemas menanti kejelasan nasib, apakah akan berakhir dengan keberhasilan atau kegagalan.
Saya sangat tidak suka dua kategori hasil seperti itu, seolah menempatkan kita pada kondisi akan menjadi pemenang atau pecundang. Memaksa kita untuk bersaing dengan yang tidak kita inginkan, bahkan dengan diri sendiri.
Orang-orang mungkin akan berkata kita saja yang kurang usaha dan terlalu malas, mungkin penilaian itu ada benarnya. Tapi pernahkah ada yang mencoba bertanya untuk sekadar memahami alasan kita mengapa tidak kunjung selesai, tanpa memaksakan jawabannya agar kita berubah
Saya tahu, ditanya untuk sekadar disanggah itu rasanya menjengkelkan. Menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang juga sama menjengkelkannya. Membuat ragu apakah pertanyaan itu memang menunjukkan kepedulian atau sekadar basa-basi untuk menghindari kecanggungan saat bertemu.
Mungkin, kita memang kurang bersyukur dan terlalu menutup diri untuk mendapat bantuan. Tapi ada kalanya ucapan semangat terus menerus berubah menjadi tekanan. Saya pernah dalam fase itu, membuat saya muak dan merasa hidup hanya menjadi beban bagi yang lain.
Sampai saya tiba pada keputusan untuk mengeluarkan ultimatum "meski langit runtuh, sarjana harus tetap diraih". Saya mencoba mengikuti dorongan semangat dari teman-teman bahwa yang utama adalah sarjana, saya tidak ingin mengecewakan mereka. Hingga suatu saat saya kembali down, disitu saya sadar, bahwa ultimatum itu menunjukkan saya yang berpura-pura tegar menanggung beban. Beban untuk memberikan teman-teman saya rasa aman.
Saya mulai berpikir kembali, saya benar-benar harus menemukan alasan yang berasal dari diri sendiri agar bisa konsisten, bukan alasan dari luar diri. Saya tidak menemukan jawabannya.
Cukup lama merenung, saya punya kesadaran baru bahwa saya tidak bisa hidup sendiri, terlalu banyak orang yang telah punya ikatan emosional cukup dalam dengan saya. Dampak dari perbuatan saya bisa saja berhubungan dengan mereka. Jika saya tidak sarjana, mungkin mereka yang akan merasa gagal dan menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menolong saya, meski mungkin saya sendiri yang memutuskan untuk tidak sarjana.
Kekecewaan dan rasa bersalah mereka akan memudar seiring waktu dan kurangnya intensitas pertemuan kami, begitu pikir saya. Tapi ada orang yang betul-betul tidak bisa saya jauhi selama saya hidup hingga mati, mereka adalah anggota keluarga saya. Orang tua dan para saudara saya. Mereka adalah rumah bukan dalam arti fisik, rumah yang selalu saya datangi ketika lelah dan butuh pemulihan energi batin.
Saya tidak ingin membuat rumah itu menjadi suram karena orang-orang yang mendiaminya mengalami masa sulit setelah mendengar kabar saya tidak sarjana.
Meski keluarga tidak selalu suportif dan positif, setidaknya mereka pernah menerima, merawat, dan membiayai saya, untuk melakukan itu mungkin mereka juga mengorbankan yang personal dalam hidupnya.
Kini, saya ingin sarjana, alasannya sederhana, berbakti kepada keluarga yang telah menyediakan rumah bagi saya. Karena hidup tidak pernah benar-benar sendirian dan kebahagiaan tidak bisa diciptakan dengan hanya satu orang.
Semoga kita semua dijauhkan dari perasaan sendiri dan kesepian. Didekatkan dengan orang-orang yang membuat kita merasa punya rumah untuk pulang di kala lelah.
Terakhir, semoga mendapat hasil terbaik untuk semester ini kawan-kawan.
Yakin Usaha Sarjana
BalasHapus