Obituari dini Ilham Nasir; bernasiblah seperti George Zinavoy

Obituari adalah tulisan yang diperuntukkan untuk mengenang seseorang yang sudah mati, mengenang kisah hidupnya, dan menceritakan perjalanannya semasa hidup. Namun, tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mengenang seseorang yang sudah mati, tapi sebagai hadiah bagi seseorang yang baru saja mengalami kehilangan fase kehidupan yang mungkin tidak akan pernah lagi dapat dia ulang, maka kehilangan itu bisa diartikan sebagai sebuah kematian (tidak dapat diulangi dan bertemu kembali) sebelum kematian yang sebenarnya menjemput. Oleh karena alasan itu tulisan ini diberi judul obituari dini, selamat sarjana Muhammad Ilham Nasir.

Saya tidak ingat kapan perjumpaan dan perkenalan pertama dengan Ilham Nasir, serta kesan pertama saat bertemu dengannya, yang dapat saya ingat kami akrab karena sering bertemu di lembaga kemahasiswaan, di sekretariat, dan di warung-warung kopi. Ilham Nasir adalah senior saya di kampus, dia lebih dulu memasuki lembaga kemahasiswaan, mungkin saat dia menjadi panitia di prosesi pengaderan dan saya sebagai mahasiswa baru yang mengikuti prosesi pengaderan tersebut adalah perjumpaan pertama kami.

Anehnya meski relasi hubungan kami bermula sebagai senior-junior yang dikenal sebagai relasi yang syarat akan unsur kekuasaan, dan dominasi kepada yang lebih inferior (junior). Seiring ingatan saya, relasi tersebut justru tidak ada dalam pertemanan kami, saya tidak pernah merasa Ilham Nasir adalah seorang senior yang menakutkan, dominan, dan suka memperalat juniornya. Entah jika ternyata saya yang mendominasi Ilham Nasir hahaha, semoga bukan seperti itu faktanya.

Dalam ingatan saya, Ilham Nasir bukan seperti sosok senior pada umumnya, dia seperti seorang teman tanpa perbedaan umur yang dapat akrab berkomunikasi tanpa menekankan penghormatan, kapatuhan, dan sopan santun yang berlebihan. masih segar dalam ingatan, kerap kali saya menyapanya dengan sebutan bro atau langsung dengan namanya tanpa menanbahkan kata kakak, kakanda, ataupun senior. Ilham Nasir memang tidak mempersoalkan sapaan tersebut, hal ini sejalan dengan pemikiran saya yang tidak suka dengan kultur hirarki yang dilanggengkan melalui bahasa.

Meski kerap kali ketika memanggilnya dengan nama, saya mendapati tatapan tidak suka dari mahasiswa lain yang masih memegang teguh norma dan nilai penghormatan kepada senior, mungkin bagi mereka sikap saya kepada Ilham Nasir menyalahi norma dan nilai yang sudah ada di lembaga kemahasiswaan. Untung saja Ilham Nasir bukan tipe senior yang konservatif seperti itu, pergulatannya dengan pengalaman dan pengetahuan selama menjalani prosesi pengaderan di lembaga kemahasiswaan mungkin yang membuatnya keluar dari pola pikir konservatif itu.

Setidaknya pola pikir itu dapat saya benarkan melalui serangkaian kisah pengalaman Ilham Nasir yang dikisahkannya langsung kepada saya. Dalam salah satu kisahnya, Ilham Nasir merasa tertekan akibat perhatian dan ekspektasi yang disematkan kepada dirinya selama  mengikuti prosesi pengaderan dikarenakan kakak kandungnya pernah menjabat sebagai ketua di lembaga kemahasiswaan tempatnya mengikuti prosesi pengaderan. Sorotan ini membuatnya merasa berbeda dari teman seangkatannya, hal ini yang kedepannya mengakibatkan Ilham Nasir lebih memilih bersikap setara kepada oranglain dan tidak menilai seseorang berdasarkan sesuatu yang sudah terberi.

kondisi ini saya sebut sebagai fase awal keakraban dengan Ilham Nasir, selanjutnya saya akan menuliskan obituari ini kedalam dua fase, yaitu fase muda, dan fase lanjutan. dalam dua fase tersebut saya melihat Ilham Nasir mengalami perubahan, fase perubahan itu hampir sama seperti yang dialami George Zinavoy di dalam film The Art Of Getting By. di film tersebut kita dapat melihat perubahan sikap George terhadap kondisi kehidupan sosialnya kedalam dua fase, yaitu praberpacaran (belum memiliki pacar) dan pascaberpacaran (sudah memiliki pacar), penanda perubahan pada George mirip dengan penanda perubahan pada Ilham Nasir. Oleh karena itu fase muda Ilham Nasir  menandakan dirinya yang belum berpacaran, dan fase lanjutan menandakan dirinya yang sedang berpacaran.

Karena kemungkinan tulisan ini akan dibaca oleh pacar Ilham Nasir, maka sebelum melanjutkan menulis kedua fase tersebut, terlebih dahulu saya ingin membuat klarifikasi terhadap kata perubahan yang saya gunakan, agar pacarnya tidak menganggap saya menuduhnya sebagai penyebab dari perubahan yang dialami Ilham Nasir. Bagi saya, perubahan adalah keniscayaan pada manusia, ini menandakan berkembangnya kualitas (pikiran dan intuisi) pada manusia. maka kata perubahan sama sekali tidak mengandung penilaian baik maupun buruk, kata tersebut hanya menunjukkan sifat alami manusia. soal baik dan buruk hanya bisa kita nilai melalui menghubungkan tindakan seseorang dengan nilai etika dan moral yang kita anut, dimana nilai itu belum tentu objektif. 

Confusius dalam salah kutipannya yang berseliweran di Google juga berkata "Hanya ada dua jenis manusia yang tidak pernah berubah, pertama yang sangat bijak, kedua yang sangat bodoh" dan Ilham Nasir bagi saya bukan dua jenis manusia yang dimaksud oleh Confusisus. Suci, salam damai hehe.

FASE MUDA

Fase muda, fase ini diberi pelekatan kata muda karena pada saat itu usia Ilham Nasir memang masih sangat muda begitupula dengan saya. pada fase ini Ilham Nasir adalah seorang yang tidak akrab dengan semua teman angkatannya, kehidupannya banyak dihabiskan di sekretariat BTP bersama kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang mayoritas adalah seniornya di kampus dan junior yang merupakan kader baru, saya masuk dalam pengelompokan junior tersebut. 

Selama di sekretariat, Ilham Nasir adalah seorang kader seperti kader HMI pada umumnya yang baru saja menyelesaikan prosesi pengaderan tahap satu, suka berdiskusi, suka membaca, dan mempertanyakan segala hal yang diragukan. Hal ini menarik perhatian saya karena biasanya kader yang sudah melewati fase pengaderan tahap satu cukup lama mulai kehilangan sifat tersebut. keseriusannya dalam berpengatuhuan ditunjukkan melalui perjalanannya ke Yogyakarta untuk mempelajari filsafat islam di Pondok Pesantren Madrasah Muthahhari seorang diri. 

Sebelum ke Yogyakarta, Ilham Nasir mirip seperti George Zinavoy praberpacaran, skeptis dan sinis kepada kondisi sosialnya. Hal ini dapat saya ingat melalui serangkaian topik percakapan kami di sekretariat maupun di kampus, saat itu saya suka mengajukan topik mengenai kekecewaan dan ketidaksukaan kepada senior yang mendasarkan penghormatan berdasarkan tahun masuk, bukan berdasarkan pengetahuan dan perilaku yang memang patut dicontoh, Ilham Nasir yang juga memiliki pandangan serupa membuat kami banyak menghabiskan waktu membicarakan topik itu. meskipun pada saat itu kami membahas topik itu berdasarkan subjektivitas perasaan dan prasangka buruk.

Setelah kepulangannya dari Yogyakarta, saya masih suka mengajukan topik perbincangan yang sama kepada Ilham Nasir, bedanya cuma saya mulai mencari landasan melalui pemikiran para tokoh eksistensialisme, sedang Ilham Nasir mulai menggunakan analisa epistemologi islam. pemikiran Ilham Nasir jauh berkembang dengan kerangka analisa epistemologi yang cukup matang, topik perbincangan kami menjadi lebih luas dan beragam, disinilah saya mengagumi Ilham Nasir dan memutuskan untuk mendaulatnya sebagai guru. Selama perbincangan, Ilham Nasir memahami pola pikir eksistensialisme saya dengan baik dan di akhir perbincangan, kesimpulan maupun pertanyaan yang diajukannya kerap kali menggugah saya untuk berpikir lebih lanjut.

Satu lagi perubahan paling mencolok pasca kepulangannya dari Yogyakarta, dia jadi rajin melaksanakan sholat. Namun sikap skeptis dan sinisnya kepada kondisi sosial masih kental.

FASE LANJUTAN

Memasuki fase lanjutan, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ini fase dimana Ilham Nasir sudah memiliki pacar. Dalam fase ini intensitas pertemuan kami mulai berkurang, selain sekretariat BTP yang sudah tidak ada, saya juga mulai lebih sering keluar dari lingkungan kampus untuk mencari forum diskusi, sedang Ilham Nasir dalam pandangan saya mulai mengurangi aktivitasnya di ruang-ruang diskusi, mungkin dia lebih memilih menyelesaikan keresahannya dengan membaca buku dan menganalisa persoalan sendirian di rumah.

Sifat skeptis dan sinis seorang Ilham Nasir mulai berkurang, lagi-lagi mirip seperti seorang George Zinavoy saat memutuskan pergi ke pesta bersama pacarnya. saya lebih sering melihatnya berbaur dengan teman seangkatannya dan mahasiswa lain di kampus, pembawaan dirinya lebih bersahaja dan luwes. Dalam fase ini saya sempat menuduh Ilham Nasir meniru cara Aa Gym untuk menghidarkan diri dari tuntutan sosial intelektualitas, masih ingat saat ditanyai alasan dirinya memutuskan berpoligami oleh wartawan, isteri pertama Aa Gym memberikan keterangan agar popularitas suaminya berkurang dan punya lebih banyak waktu untuk keluarga, setidaknya ini yang bisa saya ingat dari tayangan gosip yang pernah saya tonton di televisi.

Bahkan saya sempat merasa cemburu saat Ilham Nasir memiliki pacar (sekadar untuk memperjelas saya tidak berorientasi seksual kepada sesama jenis). Sikap cemburu ini dikarenakan kami sudah banyak menghabiskan waktu berbicara panjang lebar mengenai apa saja, Ilham Nasir seperti sebagian diri saya yang lain.
Setelah melakukan poligami, praktis popularitas dan aktivitas Aa Gym di ruang sosial berkurang drastis, hal yang sama terjadi pada Ilham Nasir. sayapun sempat kecewa terhadap sikap Ilham Nasir yang sudah saya daulat sebagai seorang guru bagi diri saya. Namun, pada akhirnya saya memutuskan untuk menggugurkan tuduhan tadi setelah kami bertemu dan berbincang-bincang, saya menyadari dia belum kehilangan daya kritisnya dan keputusannya untuk berpacaran semata-mata karena fitrah manusia kepada cinta.

Kekaguman kepada guru saya inipun berlanjut, puncaknya saat saya memutuskan untuk memercayainya mengemban jabatan sekretaris umum menemani saya yang saat itu menjabat sebagai ketua umum. Meski diawal masa kepengurusan intensitas pertemuan kami cukup rendah, saya mewajarinya karena saya paham Ilham Nasir punya tuntutan berat dari keluarga untuk segera menyelesaikan masa studinya, ketimbang menuduhnya lebih sibuk berpacaran. saya justru bersyukur pada saat itu guru saya punya seorang pacar yang bisa meringankan bebannya, hal yang tidak bisa saya lakukan kepada guru saya itu.

Meskipun dalam beberapa kesempatan saat saya ditanyai kenapa jarang mengawal kepengurusan bersama Ilham Nasir, saya memberikan jawaban mungkin Ilham Nasir sedang sibuk berpacaran. saya menjawab seperti itu karena itulah jawaban yang diinginkan si penanya, dan  saya malas menjelaskan bagaimana perilaku berpacaran itu wajar yang didasarkan pada penjelasan filsafat cinta. Coba bayangkan saja jika saya tidak menjawab seperti itu, mungkin butuh waktu 2 jam untuk menjelaskan filsafat cinta ditambah 1 jam untuk menjelaskan berpacaran bukan perilaku menyimpang. sedangkan saya punya segudang persoalan di kepengurusan yang mesti saya selesaikan segera mungkin.

Maafkan muridmu ini yang malas menjelaskan kebenaran dan memilih memberikan jawaban yang salah agar terhindar dari obrolan yang kurang penting.

Ilham Nasir sangat banyak membantu saya dalam masa-masa akhir kepengurusan, selain dia handal dalam mengerjakan tugas seorang sekretaris, dia juga rela menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan keluh kesah saya selama memimpin kepengurusan. Disini pula saya  menyadari guru saya itu kini punya kemampuan membaca dan beradaptasi pada situasi sosial yang lebih baik, ini sangat membantu saya. Ditambah lagi, di kemudian hari saya mengetahui bahwa dia pernah membaca buku Tafsir Sosial Atas Kenyataan, tidak salah saya mendaulatnya sebagai seorang guru.

YANG TIDAK BANYAK DIKETAHUI PARA KADER

Mungkin setelah Ilham Nasir memiliki pacar, banyak yang beranggapan dia mulai kurang aktif di lembaga kemahasiswaan, melalui tulisan ini saya akan mencoba membantah anggapan tersebut. 

Selama menemami saya menjabat di HMI, Ilham Nasir juga menjabat di lembaga internal mahasiswa  kehutanan (SYLVA), sembari mengerjakan proposal penelitian untuk skripsi. Dalam masa itu saya melihat Ilham Nasir begitu serius membagi waktu untuk segala kesibukannya, yang tidak bisa saya pungkiri adalah keterlibatannya langsung ke akar rumput bertemu panitia dan kader untuk melaksanakan suatu program kerja lemabaga, membantu hal teknis, menemani mereka bercerita untuk sekadar mendengarkan keluh kesah para panitia, bercanda dan memotivasi agar para panitia terus bersemangat menjalankan kegiatan.  suatu hal yang tidak bisa saya lakukan.

Bahkan saat selesai menjabat di SYLVA, saya masih melihat Ilham Nasir melakukan pekerjaan tersebut, terkadang tanpa ada embel-embel steering comite, mungkin masih ada yang beranggapan Ilham Nasir melakukan itu semua karena di lembaga itu ada pacarnya, namun anggapan itu mesti kita kesampingkan terlebih dahulu, kita mesti melihat apa yang dilakukannya sebagai sebuah realitas yang benar-benar terjadi, terlepas dari motif apapun yang kita sematkan. karena kita mesti mengakui, tidak semua dari kita mau dan mampu untuk terjun ke akar rumput, seperti saya misalnya yang lebih suka nyinyir lewat medsos ketimbang berhadapan langsung dengan para kader memberikan argumentasi rasional lewat papan tulis dan mengawal hingga proses praktisnya berlangsung.

Ditambah lagi, Ilham Nasir turun ke akar rumput bukan tanpa analisa dan perencanaan yang matang, baru saya sadari, dia memiliki pengetahuan fenomenologis selain pengetahuan yang bercorak sosiologis pada fase lanjutan. Saya curiga corak fenomelogis ini dia kembangkan selepas perbincangan kami terkait buku Kierkegaard, dan mulai dia terapkan selama turun ke akar rumput.

PENUTUP

Pada akhir cerita di film, George Zinavoy memutuskan untuk menghadapi semua yang meresahkan dirinya dengan mengatakan kebenaran, kemudian George lebih memilih menghadapi tuntutan sosial ketimbang terus mengutuknya, yang paling penting George berhasil memenangkan cintanya kepada sang kekasih. Setelah film berakhir, saya membayangkan kehidupan George di masa depan penuh dengan kesusahan karena pola pikir uniknya, tapi George akan terus baik-baik saja selama dia masih mengenal dirinya sendiri dan memiliki cinta yang menemaninya.

Saya melihat kehidupan George pada akhir cerita film sudah dilalui oleh guru, selanjutnya saya berharap guru bisa hidup sebagaimana saya membayangkan kisah George setelah film berakhir atau justru bernasib lebih baik ketimbang yang bisa saya bayangkan. Semoga pula kita dapat bertemu untuk waktu yang panjang di masa yang akan datang.

Akhir kata, salam kasih dari muridmu yang suka semena-mena.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Menonton Tigertail

Setelah menonton film Mr. Nobody

Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa