Hari ini
7 november 2016
Sebelum melakukan ritual tidur di
pagi hari, saya sempat membaca sebuah tulisan di beranda facebook yang diunggah
oleh, eddward s keneddy dilaman pribadinya, tulisan itu mengenai seorang
pesepakbola pemalas bernama riquelme melawan gaya bermain sepakbola modern yang
dipenuhi tenaga, determinasi, dan agresivitas tinggi. Dalam tulisan ini saya
kembali teringat dengan apa itu moderenitas yang berasal dari kata moderna,
yang memiliki arti hari ini, dimana kemajuan serta keterbukaan merupakan nyawa
utama dari generasi ini, semangat untuk terus bersaing menjadi yang paling hari
ini (maju) merupakan capaian utama, sehingga generasi ini sangat terbuka dengan
yang namanya keterbukaan informasi, hal ini terjawantahkan dalam internet yang
sudah hampir menjadi sebuah komoditi yang menjadi kebutuhan hampir seluruh
lapisan masyarakat, generasi inipun dikenal dengan budaya rakusnya untuk
mengonsumsi informasi, tapi tidak dengan daya saring informasi yang memadai,
atau bisa dibilang hampir semua informasi ditelan mentah mentah, yang berujung
pada kedangkalan pengetahuan.
Setelah itu saya melanjutkan
ritual bangun di siang hari untuk melaksanakan kewajiban sebagai mahasiswa,
singkat cerita pada sore hari selepas memenuhi ruang perkuliahan, saya
melaksanakan tanggung jawab saya sebagai presedium sidang untuk mengarahkan
sidang di forum musyawarah yang sedang berlangsung dalam tubuh lembaga
kemahasiswaan yang saya masuki, dalam forum yang sudah sampai pada tahap
pemaparan visi misi calon ketua dan wakil, salah satu wakil memiliki visi ingin
membangun budaya diskusi yang kreatif, ketika ditanya kenapa visi ini hadir,
calon ketua dan wakil tersebut menjawab visi ini hadir melihat forum diskusi
hari ini sudah ditinggalkan karena sudah jadul karena forum diskusi hanya
berisi sesi pemaparan materi oleh pemateri yang selanjutnya akan dilanjutkan
dengan sesi tanya jawab, hal ini sangat membosankan bagi manusia modern yang
haus akan hiburan, sehingga perlu ada sesi lain yang lebih menghibur dan
membuat forum diskusi tidak terlihat kaku, pungkas calon.
Dari pernyataan calon ketua dan
wakil ketua lembaga tersebut saya kembali menangkap sisi lain dari moderenitas
dimana generasi ini ternyata haus akan hiburan akibat jenuh dengan informasi
yang bertebaran dimana-mana namun tidak mampu ditelaah dan ditampung sekaligus,
maka wajar saja generasi ini cepat bosan dan jenuh terhadap ketidakmajuan,
semangat eksplorasi yang tinggi memang semestinya didukung dengan daya saring
dan tampung yang tinggi pula.
Hal ini membuat saya tertarik
untuk memikirkan apa saja sebenarnya resiko yang akan dialami oleh generasi
yang menganut moderenitas sebagai pegangan hidupnya, dengan analisis pendek
saya mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa, generasi ini mungkin sudah kehilangan
kepeduliannya terhadap sesama, melihat dari semangat persaingan untuk menjadi
orang yang paling hari ini begitu masif, memandang hidup sebagai persaingan
akan membuat kita merasa oranglain adalah saingan yang harus dikalahkan bahkan
disingkirkan,kepedulianpun akan memudar.
Generasi ini juga mungkin akan tumbuh sebagai
generasi dengan kedangkalan berpikir melihat contoh perilaku konsumsinya
terhadap informasi ataupun barang yang begitu tinggi tanpa diiringi dengan daya
cerna yang tinggi pula, sehingga konflik akibat perbedaan pendapat sering kita
jumpai di berbagai sosial media, ketidakmampuan menerima gagasan lain selain
gagasannya seringkali membuat orang cenderung langsung menghukumi pemikiran
oranglain salah, hal ini sebenarnya tidak sesuai dengan semangat moderenitas
yang menuntut kemajuan, tanpa adanya kemampuan menerima gagasan lain untuk
memperbaharui gagasan yang sudah ada lalu dengan serta merta mengabaikan
kebenaran yang ada tidak akan menciptakan sesuatu yang baru, maka itu tidak
pantas disebut sebagai suatu kemajuan.
Lanjut pada malam hari, dengan
keadaan yang bosan melihat sosial media yang tak lagi menghibur, saya dan
beberapa teman memutuskan untuk menghibur diri dengan bermaksud membuat candaan
di sosial media, yang sebenarnya ini tidak digagas oleh saya pada awalnya.
Sinngkat cerita kami melemparkan berita didalam grup yang memuat informasi
bahwa saya sedang mengalami sakit parah, sontak berita ini membuat seisi grup panik,
sedangkan saya dan teman teman yang membagikan berita bohong ini sedang tertawa
terpingkal pingkal melihat reaksi para penghuni grup sosial media tersebut,
mereka menunjukkan kekhawatiran yang begitu tinggi, hingga menunjukkan
kepedulian yang begitu tinggi pula,sampai-sampai teman teman di grup sosial
media datang untuk menjenguk saya saat itu juga, bayangkanlah betapa kecewanya
mereka melihat saya yang sedang dalam keadaan baik-baik saja, merasa dibohongi
oleh orang yang tak merasa berbohong, teman-teman saya yang tadi datang dengan
niatan ingin menjenguk orang sakit langsung pulang dengan kekecawaan dan rasa
sakit hati yang mendalam.
Melihat kejadian itu saya
teringat bahwa sebenarnya sayalah bagian dari generasi modern ini, yang saya
cap dangkal, berkepedulian rendah, individualistis, haus akan hiburan, dan
berbagai macam stigma miring lainnya yang jauh dari nilai kemanusian. Ternyata
masih banyak orang-orang yang tidak sepenuhnya menjadi manusia modern, ini saya
buktikan melalui teman-teman saya yang sudah rela pergi menjenguk saya meskipun
itu hanya kepalsuan, mereka masih memiliki kepedulian yang tinggi yang mampu
teraktualkan di dunia nyata, tidak seperti yang saya bayangkan selama ini bahwa
kepedulian itu hanya diperlihatkan di dunia maya untuk sekedar mendapatkan
pengakuan.
Yang bisa saya petik dari
kejadian ini tidak semua manusia modern hanya memandang hidup sebagai
persaingan, mereka masih punya sisi kemanusian yang tersembunyi dari arus
informasi yang bertebaran dimana-mana, egoisme belum sepenuhnya merasuki
generasi ini.
Hal ini membuat saya sangat malu
pada diri saya sendiri maupun teman teman saya,karena kedangkalan saya yang
tidak mampu untuk memikirkan resiko dari kebutuhan untuk memuaskan hasrat akan
hiburan semata, maka dari itu terimalah permintaan maaf dari saya ini
teman-teman yang penuh dengan rasa penyesalan.
Komentar
Posting Komentar