Fatwa, Rivalitas Kita Sudah Berakhir
Saat menuliskan ini saya tidak tahu harus menggunakan kalimat seperti apa, perasaan saya campur aduk. Di satu sisi senang karena Fatwa Faturachmat, salah seorang karib saya baru saja sarjana. Di sisi lain saya sedih karena mulai saat ini juga karib saya itu tidak lagi bisa mewarnai hari-hari saya di kampus untuk berdiskusi, berbagi kisah percintaan, dan segala macam jenis perbincangan intens lainnya. Perasaan ini persis seperti ketika saya pergi memesan Coto Makassar tanpa hati tapi pelayan datang menyajikan Coto dengan hati di dalamnya, meski tidak suka memakan hati karena cita rasa pahit pekatnya itu, mau tidak mau saya harus memakannya ketimbang dibuang, daripada mubazir dan saya bayar pula. Ditambah lagi, dengan sarjananya Fatwa, daftar karib di kampus yang bisa saya ajak ngobrol tanpa perlu terlebih dahulu menjelaskan siapa diri saya sudah berkurang drastis, setelah Ilham Nasir yang terlebih dahulu sarjana beberapa bulan lalu. Saya membayangkan hari-hari kedepan di kam...