Tentang Senior dan Junior



Senior-junior adalah struktur baku dalam suatu lembaga kemahasiswaan, status senior-junior didapatkan berdasarkan waktu masuk sebagai seorang kader lembaga, yang duluan masuk menjadi senior,yang terlambat masuk menjadi junior, yang selanjutnya status ini akan menghasilkan fungsinya masing-masing guna berputarnya roda organisasi yang sedang membawa tujuan lembaga menuju garis finish.

Interaksi antara senior dengan  junior selalu menarik untuk dibahas, mulai dari pengaderan, bercanda bersama, menyukseskan program kerja bersama, hingga bisa menumbuhkan cinta lintas generasi, sungguh banyak yang bisa dibuahkan dari interaksi antara senior dengan junior. Salah satu interaksi yang ingin saya ulas kali ini adalah interaksi antara seorang yang memiliki status lebih tinggi dari senior, yaitu, super sunior. Status ini hanya bisa disandang jika kamu sudah lama lulus dari kampus, perbedaan generasi dengan kader baru terlampau jauh layaknya perbedaan antara generasi Y dengan generasi Z, yang menandakan kamu sudah sangat tua untuk memanggil junior mu adik, dan kamu terlalu tua untuk bisa dipanggil kakak, mungkin lebih cocok dipanggil paman.

Pertemuan antara dua kader beda generasi ini selalu bisa terjadi entah itu melalui momen pengaderan, momen anniverasry lembaga, momen musyawarah besar, momen berbagi proyek, atau hanya sekedar momen melepas kerinduan akan masa muda. Sebagai seorang junior yang mengalami pertemuan pertamakali dengan super senior rasa canggung akan muncul pada kontak sosial pertama, yang terpikir didalam benak adalah, bagaimana seharusnya saya menyapanya?, bagaimana seharusnya besar intonasi suara saat berbicara dengannya?, bagaimana seharusnya menjawab pertanyaannya?, berbagai macam pertanyaan soal bagaimana bisa terlihat sebagai kader yang baik dihadapannya akan segera menyelimuti, pertanyaan ini ibarat salju yang turun sangat cepat sehingga  membuat membeku seketika. Mungkin hal seperti ini muncul karena hasil pemupukan dari paham yang mengharuskan junior memberikan penghormatan dan kepatuhan kepada sang senior sejak masa pengaderan. Tapi sebenarnya tidak perlu takut, karena yang perlu dilakukan hanyalah mendengarkan dongeng tentang era kejayaan lembaga saat dinahkodai olehnya, ini adalah fase pertama dalam interaksi antara super senior dengan junior.

Kenapa menyebut cerita sang super senior sebagai sebuah dongeng, karena, saat mendengar ceritanya anda akan mulai berpikir bahwa cerita ini sangat penuh unsur dramatisir dan heroisme, sampai cerita ini terdengar mustahil untuk terjadi, dan yang paling membuat cerita sang super senior terasa seperti dongeng adalah saat anda mulai bosan dan mengantuk saat mendengarkan ceritanya, karena anda hanya bisa mendengarkan, menganggukkan kepala, sambil berkata oooh, itu pun jika anda cukup berani berkata oh karena kata oh sering dianggap kurang sopan.

Fase kedua adalah fase kekecewaan dari sang super senior jika mendapati kondisi lembaga saat ini tidak sesuai dengan isi cerita dongengnya tentang era kejayaan lembaga pada masanya, super senior memakai eranya sebagai perbandingan untuk era ini, sebenarnya ini sah-sah saja, tapi terkadang sang super senior kurang jeli dalam melihat permasalahan di era ini, yang tentunya permasalahan lembaga akan semakin banyak seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan pasti akan menghasilkan sebuah solusi baru dan juga permasalahan baru , sehingga selalu diperlukan metode dan program kerja yang baru, maka mencap kader di era ini sebagai kader yang gagal atau mengalami kemunduran dalam  mengemban amanat masa lalu dan membawa lembaga menuju jalan yang benar terasa terlalu subjektif. Apalagi jika kekecewaan hanya diperdengarkan sebatas sebagai keluhan tanpa adanya solusi.

Fase ketiga akan muncul pada diri si junior, junior akan mulai merasa serba salah. Diakibatkan kekecewaan karena menganggap ternyata yang selama ini dia lakukan merupakan kesalahan, selama ini dia gagal menyelesaikan sebuah masalah, merasa gagal menjaga warisan, dan kecewa ternyata usahanya selama ini dinilai sebuah kesia-sian belaka, si juniorpun akan merasa marah karena proses jerih payahnya dalam melanjutkan roda organisasi dinilai menggunakan hasil yang berada di masa lalu, bukan hasil dari proses jerih payahnya di masa sekarang ini. Merasa serba salah memang sangat tidak enak, membuat kita menjadi malas untuk melakukan apapun karena hasil yang akan didapat berupa kesia-siaan. Yah mungkin kita akan menganggap si junior saja yang terlalu baper, karena kita lupa bahwa apresiasi merupakan suatu hal yang sangat penting guna memotivasi kader kearah yang lebih baik.

Fase keempat merupakan fase yang sangat jarang terjadi  sehingga bisa disebut langka, fase ini disebut sebagai fase positif, karena fase ini hanya bisa dicapai oleh junior yang selalu berpikiran positif,  menganggap akan selalu ada hidayah yang terselip dari sebuah kisah, menganggap penilaian sang super senior merupakan sebuah tantangan baru yang bisa diselesaikan, menganggap sang super senior sebenarnya hanya ingin melakukan motivasi walaupun caranya bukan dengan menyemangati, karena semangat perubahan lahir dari kondisi keterpurukan, seperti sepotong lirik lagu internasionale “bangunlah kaum yang terhina, bangunlah kaum yang lapar, kehendak yang mulia dalam dunia, senantiasa tambah besar” . Jika si junior kelewat positif thingking, mungkin dia akan menganggap kisah era kejayaan terasebut sebagai sebuah kisah inspiratif seperti kisah yang biasa dihadirkan di acara talk show kick andy.  

Setelah melihat empat fase yang terjadi saat interaksi super senior dengan junior berlangsung, maka alangkah lebih baik jika super senior melakukan metode verstehen, yaitu, metode pendekatan yang berusaha  mengerti dan memahami yang makna yang mendasari sebuah peristiwa atau fenomena sosial. Jika mendapati keadaan lembaga yang sudah lama anda tinggalkan tidak sesuai dengan yang anda harapkan. Super senior juga perlu memberikan ruang kepada junior untuk menceritakan kisahnya agar terbangunnya komunikasi yang partisipatif guna terwujudnya proses dialektika dalam berlembaga, agar si junior tumbuh menjadi kader yang progresif dan revolusioner, karena baru saja mengalami perbincangan yang penuh nuansa intelektual dan inspiratif dari super senior kebanggaannya.

Untuk junior perbanyaklah membaca buku dan belajar yang giat agar saat mendapati kekecewaan super senior , kamu mampu menjawabnya dengan berbagai pengetahuan yang kamu miliki, serta jadilah kader yang militan dengan berani mempertahankan yang kamu anggap benar dan mampu menunjukkan bahwa senior mu baru saja melakukan kesalahan dalam berpikir,selalulah meragu bahwa yang dikatakan senior belum tentu suatu kebenran mutlak, jadilah mahasiswa pemberani yang hanya takut pada tuhan dan drop out,percayalah jika kamu di drop out dari kampus, orang tua akan terbayang lebih menyeramkan daripada super senior bahkan, tuhan sekalipun. Seolah putus pendidikan adalah sebuah jurang kegagalan yang sangat gelap dan dalam.

Kedua belah pihak juga perlu menghilangkan rasa saling ketergantungan, misalnya junior selalu butuh para senior sebagai donatur tetap untuk mendanai kegiatannya, berusalah lebih kreatif untuk mencari dana sembari melatih diri berwirausaha untuk mempersiapkan diri menjalani era pasar terbuka se-asia tenggara. Berusalah menjadi intelektual kampus tanpa bergantung dengan seniormu, karena era internet ini telah menyediakan hampir segala informasi yang kamu perlukan,  dan informasi di internet mengalami pembaharuan dengan sangat cepat, serta senior kurangilah ketergantungan kepada junior mu dalam hal suruh-menyuruh yang hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadimu. Status senior bukan melulu soal kekuasaan terhadap junior, ada tanggung jawab untuk selalu menjadi panutan yang baik bagi junior, dan untuk membantu junior membawa lembaga menuju garis finish.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Menonton Tigertail

Setelah menonton film Mr. Nobody

Catatan Facebook 2018: Bergabung di Lembaga Mahasiswa